Dalam contoh itu, pemerintah dan masyarakat sama-sama mendapat peran. Pemerintah hadir, sementara masyarakat saling membantu dan bergotong royong.
Dian memakai soal air sebagai contoh. Ia menyebut kata misalnya untuk menunjukkan bahwa air hanya salah satu bentuk kesulitan.
Dian berharap peringatan Hari Kesaktian Pancasila menjadi momentum memperkuat kepedulian sosial di Karawang. Pancasila, menurut dia, harus terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Dian menyebut kepedulian sosial sebagai tujuan. Ia ingin kepedulian itu menguat di Karawang lewat momentum peringatan.
Siapa pun tidak boleh membiarkan masyarakat yang mengalami kesulitan sendirian.
Dian turut mengajak generasi muda memahami Pancasila melalui tindakan nyata.
“Saya juga mengajak generasi muda untuk memahami Pancasila melalui tindakan nyata, termasuk kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar,” tegasnya.
Tindakan nyata yang ia sebut mencakup kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar. Ajakan itu ia alamatkan secara khusus kepada generasi muda.
Rangkaian ajakan Dian menyentuh tiga kelompok. Kelompok itu terdiri dari pemerintah daerah, masyarakat, dan generasi muda.
Pemerintah daerah ia minta hadir memenuhi kebutuhan dasar. Masyarakat ia minta saling membantu, dan generasi muda ia minta bertindak nyata.
Kemarau menjadi contoh konkret dalam seluruh pernyataan itu. Dian mengaitkan musim kering dengan makna Hari Kesaktian Pancasila bagi warga Karawang.
Dian menutup pernyataannya dengan ajakan kepada generasi muda. Ajakan itu menutup rangkaian pesan yang berawal dari persoalan kemarau.
Pesan itu singkat dan konkret.
Hingga berita ini ditulis, keterangan Dian belum menyebut daftar wilayah Karawang yang terdampak kemarau maupun langkah bantuan air yang akan dijalankan.
Sumber: https://mahidara.co/dian-fahrud-jaman-gotong-royong-kemarau-karawang-pancasila/

