Kabar Daerah Berita

Kendala Fiskal, Proyek Rp34 Miliar Jalan Pangkalan Karawang Terhenti

Proyek Jalan Badami-Loji Rp34 miliar di Pangkalan Karawang mangkrak, Karang Taruna desak evaluasi PT Dollar Lestari Mandiri.
Proyek Jalan Badami-Loji Rp34 miliar di Pangkalan Karawang mangkrak, Karang Taruna desak evaluasi PT Dollar Lestari Mandiri.

Karawang, MAHIDARA – Proyek perbaikan Jalan Badami-Loji senilai sekitar Rp34 miliar di Kecamatan Pangkalan, Karawang, mangkrak dan menuai kekecewaan warga. Ketua Karang Taruna Kecamatan Pangkalan, Legianto, menyebut proyek itu telah menghambat aktivitas masyarakat sekitar.

Ruas jalan tersebut berada di Kecamatan Pangkalan, salah satu wilayah di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Warga di kawasan itu turut menanti kepastian kelanjutan pekerjaan yang sempat tersendat.

Legianto menilai proyek berskala besar itu semestinya turut melibatkan warga lokal. Ia menyoroti minimnya kesempatan ekonomi bagi masyarakat sekitar selama pengerjaan proyek berlangsung.

Pernyataan itu disampaikan Legianto pada Sabtu, 11 Juli 2026, seiring proyek yang tak kunjung rampung. Ia menyampaikan keluhan itu mewakili suara masyarakat Kecamatan Pangkalan yang terdampak langsung.

“Kami sangat kecewa karena proyek perbaikan Jalan Badami-Loji yang nilainya mencapai sekitar Rp34 miliar justru mangkrak. Masyarakat lokal juga tidak dilibatkan, padahal seharusnya mereka bisa menjadi bagian dari aktivitas ekonomi dari proyek ini,” ujar Legianto, Sabtu (11/7/2026).

Kekecewaan itu bukan tanpa alasan.

Kasus Penculikan Jesslyn Wijaya: Manifest Terbang vs Sinyal Ponsel Bali

Nilai proyek yang mencapai Rp34 miliar dinilai sebanding dengan dampak yang semestinya dirasakan warga. Namun kenyataannya, pekerjaan fisik di lapangan justru terhenti tanpa kepastian waktu.

Ketiadaan pelibatan warga lokal turut memperbesar kekecewaan publik atas mangkraknya proyek ini. Padahal proyek infrastruktur berskala miliaran rupiah semacam ini idealnya turut membuka lapangan kerja bagi warga sekitar.

Ia lantas mendesak otoritas terkait mengevaluasi keseluruhan proses proyek tersebut. Evaluasi itu disebut mencakup tahapan tender hingga kinerja penyedia jasa yang ditunjuk mengerjakan proyek.

“Saya meminta pihak berwenang mengevaluasi proses tender maupun penyedia jasa. Menurut saya, PT Dollar Lestari Mandiri yang saat ini mengerjakan proyek tersebut patut dievaluasi. Perusahaan yang kompeten seharusnya mampu mengantisipasi kendala fiskal. Mangkraknya proyek ini menunjukkan adanya persoalan yang harus menjadi bahan evaluasi,” kata dia.

Sorotan itu mengarah ke kontraktor.

Sungai Cilamaya Tercemar, Wakil Rakyat Jabar VII Minta KLH Bertindak Tegas

Permintaan evaluasi itu tidak hanya menyasar penyedia jasa, tetapi juga mekanisme lelang proyek secara keseluruhan. Legianto menilai perusahaan yang kompeten mestinya mampu mengantisipasi risiko kendala fiskal sejak awal.

PT Dollar Lestari Mandiri merupakan penyedia jasa yang tengah mengerjakan proyek Jalan Badami-Loji. Perusahaan itu kini menjadi sorotan utama Legianto terkait mangkraknya pekerjaan di lapangan.

Nama PT Dollar Lestari Mandiri disebut eksplisit oleh Legianto sebagai penyedia jasa yang harus dievaluasi kinerjanya. Permintaan itu muncul lantaran perusahaan tersebut dinilai belum mampu menuntaskan pekerjaan sesuai target.

Sorotan Legianto itu mendapat tanggapan berbeda dari Anggota DPRD Jawa Barat, Jenal Arifin. Jenal menegaskan penghentian pekerjaan bukan disebabkan oleh pembatalan proyek.

Usai Sidak Bupati, DPRD Karawang Desak Inventarisasi Seluruh THM Ilegal

“Berdasarkan hasil koordinasi dengan konsultan atau pengawas proyek, pekerjaan terhenti bukan karena proyek dibatalkan. Penyebabnya adalah kontraktor mengalami kendala fiskal sehingga pekerjaan tidak dapat dilanjutkan sesuai jadwal,” ujar Jenal.

Faktor lain turut memperparah kendala tersebut.

Keterangan itu diperoleh Jenal setelah berkoordinasi dengan konsultan dan pengawas proyek di lapangan. Koordinasi tersebut menjadi dasar penjelasannya soal status pekerjaan yang sempat terhenti.

Klarifikasi itu penting untuk meluruskan persepsi publik soal status proyek. Jenal menegaskan proyek tidak dibatalkan, meski pekerjaan fisik di lapangan sempat terhenti.

Sebagai Anggota DPRD Jawa Barat, Jenal Arifin dituntut memberi kejelasan kepada publik ihwal kelanjutan proyek. Kejelasan itu penting mengingat proyek Jalan Badami-Loji menyedot anggaran hingga Rp34 miliar.

Jenal menjelaskan kendala fiskal kontraktor berkelindan dengan kenaikan harga material konstruksi. Selisih waktu antara proses lelang dan pelaksanaan fisik proyek disebut menjadi pemicu utama.

Proses lelang proyek berlangsung pada 2025, jauh sebelum pelaksanaan fisik dimulai pada 2026. Jeda waktu itu disebut menjadi salah satu pemicu meningkatnya biaya material di lapangan.

“Proses lelang dilakukan pada 2025, sedangkan pelaksanaan fisik baru dimulai pada 2026. Rentang waktu tersebut menyebabkan perubahan harga material, ditambah kondisi ekonomi global yang turut memengaruhi fluktuasi harga,” jelasnya.

Selisih satu tahun antara masa lelang dan pelaksanaan fisik proyek dinilai berpengaruh signifikan terhadap anggaran. Kondisi ekonomi global yang fluktuatif turut memperberat tekanan biaya material bagi kontraktor.

Hingga berita ini ditulis, PT Dollar Lestari Mandiri belum memberikan keterangan resmi. Perusahaan itu belum merespons soal penyebab terhentinya pekerjaan proyek Jalan Badami-Loji.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *