“Nanti boleh siapa saja yang mengisinya. Jadi bukan hanya tempat tinggal, mereka juga akan bertani dan melakukan banyak aktivitas di sini. Oleh karena itu kita akan buat lingkungan nyaman dan produktif di sini,” kata Aep.
Pernyataan itu mengindikasikan bahwa hunian tidak dibatasi hanya untuk warga desa setempat. Seluruh lansia yang memenuhi kriteria — tidak memiliki rumah maupun tanah — berpeluang menjadi penghuni.
Gagasan membangun rumah lansia ini tidak lahir dari kajian formal di meja rapat. Ide itu muncul dari percakapan langsung bupati dengan para lansia saat menghadiri sekolah lansia.
Dalam pertemuan itu, sejumlah lansia menyampaikan keluhan yang tidak terduga. Bukan soal kesehatan atau akses layanan, melainkan soal kebutuhan paling mendasar: tidak punya tempat tinggal.
Mereka mengungkapkannya jujur dan apa adanya. Fakta itu disampaikan langsung kepada bupati di forum sekolah lansia.



Komentar