Kabar Daerah Berita

Kisah Hanif Korban TPPO di Kamboja: Dipaksa Jadi Scammer hingga Disiksa, Pulang Jelang Lebaran

Luka di balik Lebaran Hanif: cerita penyiksaan dan tipu daya 'scam love' di Kamboja menjadi sorotan setelah seorang pemuda asal Karawang berhasil kembali ke tanah air
Luka di balik Lebaran Hanif: cerita penyiksaan dan tipu daya 'scam love' di Kamboja menjadi sorotan setelah seorang pemuda asal Karawang berhasil kembali ke tanah air

Drama Kepulangan Hanif, Korban TPPO yang Terjebak Scam Love di Kamboja

MAHIDARA – Luka di balik Lebaran Hanif: cerita penyiksaan dan tipu daya ‘scam love’ di Kamboja menjadi sorotan setelah seorang pemuda asal Karawang berhasil kembali ke tanah air usai mengalami penderitaan panjang sebagai korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

Karawang – Idulfitri tahun ini menjadi momen yang paling menggetarkan sanubari bagi Muhammad Hanif Abdul Karim (25), warga Desa Sumur Kondang, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang. Ia akhirnya bisa menghirup udara bebas di kampung halamannya setelah berbulan-bulan terjebak dalam praktik perdagangan manusia di Kamboja.

Bagi Hanif, kepulangannya bukan sekadar perjalanan pulang biasa, melainkan sebuah keajaiban setelah melewati tekanan fisik dan mental yang berat. Di negara tujuan, ia tidak bekerja seperti yang dijanjikan, melainkan dipaksa terlibat dalam praktik penipuan daring berkedok asmara atau yang dikenal sebagai “scam love”.

Bagaimana Hanif Bisa Terjebak dalam TPPO?

Berawal dari Janji Kerja Palsu di Luar Negeri

Hanif menceritakan awal mula keberangkatannya yang penuh tipu daya. Ia mengaku diiming-imingi pekerjaan oleh temannya sendiri yang bernama Adam.

“Saya berangkat ke Kamboja jadi korban TPPO, jadi scammer di Komboja. Saya awal mula pergi ke Kamboja, yaitu diiming-iming oleh teman saya sendiri yang bernama Adam. Dan salah satu teman saya itu mempunyai kakak kandung yang sudah lebih dulu kerja disana,” kenang Hanif saat berbincang dengan mahidara.co di kawasan Citra Kebun Mas, Karawang, Senin (30/3/2026).

Awalnya, pekerjaan yang ditawarkan adalah sebagai pelayan restoran di Malaysia. Namun, kenyataan yang terjadi jauh berbeda dari janji awal tersebut.

Dua Raperda Strategis Digarap Pansus Baru DPRD Kabupaten Karawang

Perjalanan Berliku Hingga ke Kamboja

“Jadi awalnya dia mengiming ke kakaknya untuk mengajak saya kerja di Kamboja. sebagai pelayan restoran, kita diiming-iming perginya ke Malaysia. Habis dari Malaysia kita transit, tiba-tiba pergi ke Kamboja, dan saya sekitar 6 bulan kerja di Kamboja,” tuturnya.

Hanif menyebut dirinya tidak memiliki pilihan ketika akhirnya dipaksa melanjutkan perjalanan ke Kamboja.

Apa yang Dialami Hanif Selama di Kamboja?

Dipaksa Menjadi Scammer “Scam Love”

Di Kamboja, Hanif tidak bekerja di restoran, melainkan dijadikan bagian dari sindikat penipuan daring.

Ia dipaksa menjerat korban perempuan melalui pendekatan emosional di dunia maya, lalu mengarahkan mereka untuk melakukan investasi palsu.

Kasus Penculikan Jesslyn Wijaya: Manifest Terbang vs Sinyal Ponsel Bali

“Kalau pekerjaannya. Jadi jenisnya itu scammer, kita melakukan scam love, itu adalah menipu daya wanita, korban diiming-iming oleh kita untuk mengajak deposit trading emas. Bukan judi online tapi mirip-mirip lah,” ungkap Hanif.

Para korban awalnya dibuat percaya melalui hubungan asmara palsu, sebelum akhirnya diminta menyetor uang ke aplikasi ilegal.

Modus Penipuan yang Terstruktur

Hanif menjelaskan bahwa korban akan diberi keuntungan pada transaksi awal untuk meningkatkan kepercayaan.

“Saat pertama deposit, itu adalah kemenangan, tapi saat saldo sudah membengkak di rekening kita, uang tersebut tidak akan pernah bisa ditarik dengan dalih pajak yang tak kunjung usai,” paparnya.

Modus ini dirancang agar korban terus melakukan deposit tanpa pernah bisa menarik kembali uangnya.

Sungai Cilamaya Tercemar, Wakil Rakyat Jabar VII Minta KLH Bertindak Tegas

Kondisi Kerja yang Tidak Manusiawi

Jam Kerja Panjang dan Tekanan Target

Hanif bekerja di sebuah gedung apartemen tiga lantai bersama sekitar 40 warga negara Indonesia lainnya.

Mereka bekerja dari pukul 07.00 pagi hingga 23.00 malam, menggunakan perangkat komputer dan ponsel untuk mencari korban.

Tekanan untuk mencapai target sangat tinggi, dan kegagalan memenuhi target berujung pada hukuman berat.

Penyiksaan Fisik dan Tidak Dibayar

Hanif mengaku mengalami penyiksaan fisik selama bekerja.

“Dua bulan saya tidak digaji. Bulan ketiga baru dapat gaji 800 dolar. Dan setelah bekerja 3 bulan di perusahaan itu, saya dianiaya karena tidak memenuhi target, saya disetrum oleh bos saya, dan leader-leader saya yang ada di Kamboja itu. Dan setelah itu kami sempat dijual lagi ke perusahaan lain yang bergerak di bidang yang sama,” kata dia.

Di perusahaan kedua, kondisinya bahkan lebih buruk.

Ia tidak menerima gaji sama sekali selama tiga bulan bekerja.

Bagaimana Hanif Bisa Melarikan Diri?

Momen Penggerebekan Polisi Kamboja

Kesempatan untuk kabur datang ketika gedung tempat mereka bekerja digerebek oleh polisi setempat.

“Kurang lebih selama 3 bulan bekerja dengan siksaan tanpa gaji di perusahaan kedua, akhirnya gedung tempat kita kerja digerebek polisi Kamboja, dan saya dengan teman-teman memilih kabur ke KBRI,” tutur Hanif.

Momen tersebut dimanfaatkan Hanif dan rekan-rekannya untuk menyelamatkan diri.

Perlindungan di KBRI

Setelah berhasil kabur, Hanif menuju Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk mendapatkan perlindungan.

Langkah ini menjadi titik balik yang memungkinkan dirinya kembali ke Indonesia.

Kapan Hanif Berhasil Pulang ke Indonesia?

Hanif akhirnya berhasil kembali ke tanah air pada 20 Maret 2026, atau sehari sebelum Idulfitri.

Kepulangannya menjadi momen emosional bagi keluarga yang telah lama menanti.

Siapa yang Membantu Kepulangan Hanif?

Peran Ketua Komisi III DPRD Karawang

Kepulangan Hanif tidak lepas dari bantuan Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Karawang, Deddy Indrasetiawan.

“Sebenarnya kan tidak ada hubungan dengan Komisi III DPRD Karawang, tapi ini warga saya, dan memang kondisi keluarganya tidak mampu untuk membiayai kepulangan Hanif,” ujar Deddy saat mendampingi Hanif.

Ia turun langsung membantu proses pemulangan Hanif yang terkendala biaya.

Apa Tanggapan Pemerintah dan Harapan ke Depan?

Desakan Penanganan Lebih Serius

Deddy mendesak pemerintah pusat untuk lebih serius menangani kasus TPPO.

“Kalau saya saran buat pemerintah pusat, sebenarnya pemerintah pusat ini kan katanya di Kamboja itu ada sekitar 6 ribu lagi ya warga kita jadi korban TPPO, seharusnya pemerintah pusat hadirlah,” tegasnya.

Ia juga meminta DPR RI dan instansi terkait untuk lebih aktif dalam membantu korban.

Peringatan bagi Masyarakat

Deddy mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur tawaran kerja di luar negeri dengan iming-iming gaji besar.

“Jangan terlalu tergiur bahwa kerja di luar negeri itu dengan penghasilan yang luar biasa, padahal sebenarnya mereka nanti bisa jadi dijual di luar negeri,” pungkasnya.

Mengapa Kasus Ini Penting untuk Diketahui?

Kasus Hanif menunjukkan bagaimana praktik TPPO masih menjadi ancaman serius.

Modus penipuan yang semakin canggih membuat banyak orang rentan menjadi korban.

Penting bagi masyarakat untuk lebih waspada dan melakukan verifikasi sebelum menerima tawaran kerja di luar negeri.

Kesimpulan: Kisah Nyata Bahaya TPPO di Era Digital

Kisah Hanif menjadi gambaran nyata betapa berbahayanya praktik perdagangan orang yang dikemas dalam tawaran pekerjaan.

Dari janji manis hingga penyiksaan, pengalaman ini menjadi pelajaran penting bagi masyarakat luas.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *