Internasional Berita

Ayatollah Ali Khamenei Wafat dalam Serangan AS dan Israel, Iran Umumkan 40 Hari Berkabung Nasional

Ayatollah Ali Khamenei wafat dalam serangan AS dan Israel di Iran pada Sabtu (28/02) dini hari waktu setempat, sebagaimana diumumkan televisi pemerintah Iran dan dikonfirmasi oleh Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC).
Ayatollah Ali Khamenei wafat dalam serangan AS dan Israel di Iran pada Sabtu (28/02) dini hari waktu setempat, sebagaimana diumumkan televisi pemerintah Iran dan dikonfirmasi oleh Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC).

Ayatollah Ali Khamenei Wafat dalam Serangan AS dan Israel, Iran Umumkan 40 Hari Berkabung Nasional

MAHIDARA – Ayatollah Ali Khamenei wafat dalam serangan AS dan Israel di Iran pada Sabtu (28/02) dini hari waktu setempat, sebagaimana diumumkan televisi pemerintah Iran dan dikonfirmasi oleh Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC). Pemerintah Iran menetapkan 40 hari masa berkabung dan tujuh hari libur nasional menyusul wafatnya Pemimpin Tertinggi tersebut, di tengah eskalasi militer yang meluas di kawasan Timur Tengah.

Pengumuman resmi disampaikan melalui saluran berita IRINN yang menayangkan foto-foto Khamenei dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an dan pita hitam di layar. Dalam pernyataan yang dibacakan penyiar, SNSC menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan yang disebut menewaskan Khamenei saat sedang menjalankan tugas di kantornya di Teheran.

Kronologi Serangan dan Konfirmasi Kematian

Ledakan di Sejumlah Kota, Kediaman Khamenei Terdampak

Menurut laporan kantor berita Fars, ledakan terdengar di sejumlah kota termasuk Isfahan, Qom, Karaj, Kermanshah, serta ibu kota Teheran sekitar pukul 09.30 waktu setempat. Cuplikan video yang diverifikasi sejumlah media internasional menunjukkan ledakan terjadi dalam radius sekitar 1 kilometer dari kompleks kediaman Pemimpin Tertinggi Iran.

Citra satelit “sebelum dan sesudah” memperlihatkan kerusakan signifikan pada kompleks tersebut, dengan bangunan yang menghitam, puing-puing berserakan, serta asap membubung tinggi.

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi menyatakan bahwa Ali Khamenei wafat pada Sabtu dini hari di kantornya saat menjalankan tugas kenegaraan. Dalam pernyataan resmi, Khamenei disebut sebagai “martir” yang wafat dalam perjuangan melawan “para penindas”.

IJTI: Jurnalis Bukan Londo Ireng, Pers Pilar Demokrasi

Korban Jiwa dan Kerusakan Meluas

Juru bicara Bulan Sabit Merah Iran, Mojtaba Khaledi, melaporkan sebanyak 201 orang meninggal dunia akibat serangan, sementara 747 lainnya mengalami luka-luka. Sebanyak 24 dari 31 provinsi Iran dilaporkan terdampak.

Media pemerintah Iran juga melaporkan sedikitnya 85 orang tewas dalam serangan Israel yang menghantam sebuah sekolah dasar di Minab, wilayah selatan Iran. Laporan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Selain Khamenei, sejumlah pejabat tinggi militer dan pemerintahan juga dilaporkan tewas. Di antaranya Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Mohammad Pakpour, serta sekretaris Dewan Pertahanan Iran, Ali Shamkhani, sebagaimana dilaporkan kantor berita resmi IRNA.

Klaim AS dan Israel: Operasi Tempur Besar-Besaran

Pernyataan Donald Trump

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa AS telah melancarkan “operasi tempur besar-besaran” di Iran. Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump menyatakan bahwa Khamenei telah “tewas” dalam operasi tersebut.

“Ia salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah tewas,” tulis Trump. Ia menyebut kematian Khamenei sebagai “keadilan bagi rakyat Iran dan semua warga Amerika”.

Dua Raperda Strategis Digarap Pansus Baru DPRD Kabupaten Karawang

Trump juga menyatakan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan menyebut operasi militer tersebut menghantam fasilitas nuklir di Fordow, Natanz, dan Isfahan. Ia menegaskan bahwa AS akan menghancurkan industri rudal Iran dan membinasakan angkatan laut negara tersebut.

Pernyataan Benjamin Netanyahu

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa Israel menjalankan operasi bersama AS untuk “menyingkirkan rezim teroris di Iran”. Ia menyerukan seluruh kelompok masyarakat Iran untuk melepaskan diri dari “tirani” dan mewujudkan Iran yang bebas dan damai.

Militer Israel mengklaim telah melancarkan gelombang awal serangan berskala luas terhadap ratusan target, termasuk tiga pertemuan pejabat senior Iran dan sejumlah tokoh penting pemerintahan.

Respons Iran dan Eskalasi Regional

Serangan Balasan ke Timur Tengah

Sebagai respons, Iran meluncurkan serangkaian serangan ke berbagai lokasi di Timur Tengah. Ledakan dilaporkan terjadi di Dubai, Doha, Bahrain, Kuwait, dan wilayah Irak utara.

• Di Dubai, ledakan terjadi di kawasan Palm Jumeirah.
• Di Doha, ledakan terlihat di sekitar Pangkalan Udara al Udeid, markas terbesar militer AS di kawasan Teluk.
• Bahrain melaporkan pangkalan Angkatan Laut AS menjadi sasaran rudal.
• Di Kuwait, sebuah drone dilaporkan menargetkan bandara internasional dan menyebabkan cedera ringan.

Kasus Penculikan Jesslyn Wijaya: Manifest Terbang vs Sinyal Ponsel Bali

Israel juga melaporkan gelombang rudal Iran, dengan sirene serangan udara berbunyi di berbagai wilayah.

Ancaman Penutupan Selat Hormuz

Kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan IRGC melaporkan bahwa Selat Hormuz akan ditutup. Selat tersebut merupakan jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman serta menjadi rute transit sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global.

UK Maritime Trade Operations (UKMTO) menyatakan telah menerima laporan kapal-kapal yang mendapat peringatan terkait potensi penutupan jalur tersebut.

Situasi Politik Iran dan Suksesi Kepemimpinan

Mekanisme Penggantian Pemimpin Tertinggi

Menurut konstitusi Iran, pengganti Pemimpin Tertinggi harus dipilih oleh Majelis Ahli Kepemimpinan, lembaga beranggotakan 88 ulama yang dipilih rakyat setiap delapan tahun. Secara praktik, hanya ulama yang dianggap loyal terhadap Republik Islam yang dapat mencalonkan diri.

Konstitusi mengatur bahwa majelis tersebut harus memilih pemimpin baru secepatnya. Namun dalam situasi keamanan yang genting akibat serangan militer, menghimpun seluruh anggota diperkirakan akan sulit.

Untuk sementara, tugas Pemimpin Tertinggi biasanya diambil alih oleh presiden, ketua lembaga kehakiman, dan seorang ulama anggota Dewan Garda yang berpengaruh.

Diplomasi yang Gagal dan Latar Belakang Konflik

Perundingan Nuklir Tanpa Terobosan

Kementerian Luar Negeri Iran mengakui bahwa serangan terjadi ketika Iran dan AS sedang berada dalam proses diplomatik. Putaran ketiga pembicaraan nuklir tidak langsung digelar pada 26 Februari di Jenewa, Swiss, namun tidak menghasilkan terobosan.

Sebelumnya, lima putaran perundingan pada Mei 2025 juga tidak membuahkan kemajuan. Putaran keenam yang dijadwalkan berlangsung Juni 2025 dibatalkan setelah Israel melancarkan serangan mendadak yang memicu konflik 12 hari.

Dalam konflik tersebut, AS dilaporkan menggempur tiga lokasi nuklir utama Iran.

Respons Indonesia dan Seruan Dialog

Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan sangat menyesalkan gagalnya perundingan antara AS dan Iran yang berdampak pada eskalasi militer di kawasan.

Indonesia menyerukan seluruh pihak untuk menahan diri serta mengedepankan dialog dan diplomasi. Presiden Prabowo Subianto menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog guna menciptakan kembali kondisi keamanan yang kondusif.

“Apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi,” sebut Kemlu Indonesia.

Kemlu juga mengimbau WNI di wilayah terdampak untuk tetap tenang, waspada, mengikuti arahan otoritas setempat, serta menjaga komunikasi dengan Perwakilan RI terdekat.

Dampak Global dan Ketidakpastian ke Depan

Wafatnya Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan AS dan Israel menandai babak baru dalam konflik Timur Tengah yang telah berlangsung lama. Eskalasi militer lintas negara, ancaman terhadap jalur perdagangan strategis seperti Selat Hormuz, serta potensi perubahan kepemimpinan di Iran menciptakan ketidakpastian geopolitik yang signifikan.

Di sisi lain, pernyataan keras dari Presiden Trump dan Perdana Menteri Netanyahu mempertegas bahwa konflik ini tidak hanya bersifat militer, tetapi juga ideologis dan politik.

Situasi yang berkembang menunjukkan bahwa kawasan Timur Tengah berada dalam fase krusial. Upaya diplomasi internasional, termasuk tawaran mediasi dari Indonesia, akan menjadi faktor penting dalam menentukan apakah ketegangan ini dapat diredakan atau justru berlanjut menjadi konflik yang lebih luas.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *