SmartThings menjadi jantung dari strategi connected living Samsung — menghubungkan lemari es, oven, AC, lampu, hingga sistem keamanan ke dalam satu jaringan terpadu. Selama lebih dari satu dekade, Samsung mengumpulkan wawasan mendalam tentang kebiasaan pengguna, lalu mengintegrasikannya dengan AI agar perangkat tidak hanya menjalankan perintah, tetapi memahami konteks di baliknya.
Dengan AI yang semakin kontekstual, pengalaman pengguna pun berubah: rumah tidak lagi sekadar tempat tinggal, tetapi asisten hidup yang belajar dari penghuninya.
Kolaborasi yang Melahirkan Dampak Nyata
Salah satu hal menarik dalam diskusi di CES 2026 adalah bagaimana AI rumah pintar dapat memberikan dampak ekonomi langsung bagi pengguna, bukan hanya kenyamanan.
Michael Wolf, pendiri dan Editor-in-Chief The Spoon, mengangkat contoh sederhana: dapur pintar. Menurutnya, ketika perangkat dapur terhubung sepenuhnya, pengguna bisa menghemat waktu dan energi — dari memantau isi kulkas hingga mengoptimalkan pemanas air berdasarkan pola konsumsi.
Samsung juga menampilkan kolaborasi dengan Hartford Steam Boiler (HSB) sebagai contoh konkret bagaimana data rumah pintar dapat digunakan secara bertanggung jawab. Proyek ini memanfaatkan data SmartThings untuk mendeteksi risiko kebocoran air, arus listrik berlebih, dan potensi kerusakan perangkat rumah tangga, yang kemudian dikonversi menjadi penghematan premi asuransi bagi pengguna.

Aaf Afiatna (Aura OS) adalah seorang WordPress Developer, Administrator IT, dan penggerak di balik infrastruktur berbagai portal media digital PT Arina Duta Sehati. Ia memiliki ketertarikan mendalam pada rekayasa sistem tingkat rendah, implementasi AI on-device, dan pengembangan proyek open-source seperti Neural Standby Kernel (NSK). Saat tidak sedang berurusan dengan server atau kode, ia aktif mengeksplorasi ekosistem Web3 dan berbagi wawasan melalui channel YouTube CryptoFansWorld.




Komentar