Teknologi

Prabowo, Danantara, dan Arah Baru Ekonomi Hijau Indonesia

Prabowo, Danantara, dan Arah Baru Ekonomi Hijau Indonesia
Prabowo, Danantara, dan Arah Baru Ekonomi Hijau Indonesia

Di Hambalang, Agenda Industri Baru Mulai Disusun

Sore itu di Hambalang, Bogor, sebuah diskusi berlangsung jauh dari sorotan publik. Presiden Prabowo Subianto duduk bersama CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilir, Rosan Roeslani, membahas sesuatu yang bisa menentukan arah ekonomi Indonesia satu dekade ke depan: hilirisasi industri dan energi bersih nasional.

Pertemuan itu bukan sekadar koordinasi teknis. Ia adalah simbol dari pergeseran paradigma ekonomi Indonesia — dari ekonomi berbasis ekspor bahan mentah menuju ekonomi bernilai tambah tinggi yang terintegrasi dengan prinsip keberlanjutan.

Menurut Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, pembahasan mencakup tiga agenda strategis, termasuk lima proyek hilirisasi utama yang dikelola oleh Danantara dengan nilai investasi mencapai 6 miliar dolar AS atau sekitar Rp100 triliun. Peletakan batu pertama direncanakan berlangsung dalam waktu dekat, menandai fase baru industrialisasi nasional.

Hilirisasi – Jalan Menuju Ekonomi Mandiri atau Ketergantungan Baru?

Dari Bahan Mentah ke Produk Bernilai Tambah

Hilirisasi telah menjadi mantra pembangunan ekonomi Indonesia dalam satu dekade terakhir.
Namun di bawah pemerintahan baru Prabowo, strategi ini tampak diarahkan ke skala yang lebih ambisius — tidak hanya mengolah sumber daya alam, tetapi juga mengintegrasikan teknologi, investasi, dan kebijakan energi bersih.

Danantara Indonesia, lembaga pengelola kekayaan negara yang kini juga memainkan peran sebagai katalis hilirisasi, menjadi poros penting dalam kebijakan ini. Fungsi Danantara tidak lagi sebatas pengelola dana investasi, melainkan aktor utama dalam desain ekonomi nasional, yang menghubungkan modal global dengan visi pembangunan berkelanjutan.

Bitcoin di Era Ledakan AI: Ancaman Bagi Kripto atau Awal Kolaborasi Teknologi Baru?

Namun pertanyaan penting muncul: apakah hilirisasi benar-benar akan membawa Indonesia menuju kemandirian industri, atau justru menciptakan ketergantungan baru pada investasi dan teknologi asing?

Proyek-proyek besar seperti ini berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi secara cepat, tetapi juga membuka risiko asimetri teknologi dan finansial. Ketika modal dan teknologi datang dari luar, posisi tawar Indonesia ditentukan oleh seberapa siap kita membangun kapasitas industri domestik yang berdaya saing.

Limbah Jadi Energi – Inovasi di Tengah Krisis Lingkungan

Dari Krisis Sampah ke Ketahanan Energi

Selain hilirisasi industri, pertemuan di Hambalang juga menyoroti agenda lain yang tidak kalah penting: pengolahan sampah menjadi energi (Waste-to-Energy/WtE). Program ini, menurut Teddy, bukan hanya proyek teknologi, tetapi juga strategi sosial-ekonomi untuk menjawab dua tantangan nasional sekaligus: sampah dan energi.

Setiap tahun, Indonesia menghasilkan lebih dari 65 juta ton sampah, dan sekitar 40 persennya masih berakhir di tempat pembuangan terbuka. Dalam konteks itu, proyek WtE menawarkan solusi dua arah: mengurangi timbunan sampah perkotaan sekaligus menambah pasokan energi bersih nasional.

Xiaomi Pamer Mobil Konsep Vision Gran Turismo di MWC 2026, Gandeng Sony PlayStation

Laman: 1 2 3

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *