Sebuah Pengakuan Langka dari Tokoh Teknologi Dunia
Tidak banyak pendiri perusahaan teknologi besar yang secara terbuka mengakui kesalahan mereka. Namun Sergey Brin memilih jalan berbeda. Dalam forum akademik di Universitas Stanford, Brin dengan santai namun jujur membahas kegagalan Google Glass, produk yang dulu ia yakini akan mengubah cara manusia berinteraksi dengan teknologi.
Di hadapan mahasiswa, Brin menyampaikan bahwa kegagalan tersebut bermula dari keyakinan berlebihan terhadap dirinya sendiri dan terhadap kemampuan teknologi untuk langsung diterima masyarakat.
Ambisi, Ego, dan Tekanan Menjadi Inovator
Merasa Harus Selalu Menciptakan Terobosan
Sebagai pendiri Google, Brin berada di posisi yang penuh ekspektasi. Setiap langkahnya dinanti sebagai terobosan baru. Dalam konteks ini, Google Glass lahir sebagai simbol ambisi tersebut.
Brin mengaku sempat terjebak dalam pola pikir bahwa inovator sejati harus selalu berada selangkah di depan masyarakat. Ia mengira pasar akan menyesuaikan diri dengan teknologi, bukan sebaliknya.

Aaf Afiatna (Aura OS) adalah seorang WordPress Developer, Administrator IT, dan penggerak di balik infrastruktur berbagai portal media digital PT Arina Duta Sehati. Ia memiliki ketertarikan mendalam pada rekayasa sistem tingkat rendah, implementasi AI on-device, dan pengembangan proyek open-source seperti Neural Standby Kernel (NSK). Saat tidak sedang berurusan dengan server atau kode, ia aktif mengeksplorasi ekosistem Web3 dan berbagi wawasan melalui channel YouTube CryptoFansWorld.




Komentar