Mereka bekerja dari pukul 07.00 pagi hingga 23.00 malam, menggunakan perangkat komputer dan ponsel untuk mencari korban.
Tekanan untuk mencapai target sangat tinggi, dan kegagalan memenuhi target berujung pada hukuman berat.
Penyiksaan Fisik dan Tidak Dibayar
Hanif mengaku mengalami penyiksaan fisik selama bekerja.
“Dua bulan saya tidak digaji. Bulan ketiga baru dapat gaji 800 dolar. Dan setelah bekerja 3 bulan di perusahaan itu, saya dianiaya karena tidak memenuhi target, saya disetrum oleh bos saya, dan leader-leader saya yang ada di Kamboja itu. Dan setelah itu kami sempat dijual lagi ke perusahaan lain yang bergerak di bidang yang sama,” kata dia.
Di perusahaan kedua, kondisinya bahkan lebih buruk.
Ia tidak menerima gaji sama sekali selama tiga bulan bekerja.
Bagaimana Hanif Bisa Melarikan Diri?
Momen Penggerebekan Polisi Kamboja
Kesempatan untuk kabur datang ketika gedung tempat mereka bekerja digerebek oleh polisi setempat.
“Kurang lebih selama 3 bulan bekerja dengan siksaan tanpa gaji di perusahaan kedua, akhirnya gedung tempat kita kerja digerebek polisi Kamboja, dan saya dengan teman-teman memilih kabur ke KBRI,” tutur Hanif.
Momen tersebut dimanfaatkan Hanif dan rekan-rekannya untuk menyelamatkan diri.
Perlindungan di KBRI
Setelah berhasil kabur, Hanif menuju Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk mendapatkan perlindungan.
Langkah ini menjadi titik balik yang memungkinkan dirinya kembali ke Indonesia.
Kapan Hanif Berhasil Pulang ke Indonesia?
Hanif akhirnya berhasil kembali ke tanah air pada 20 Maret 2026, atau sehari sebelum Idulfitri.




Komentar