Ada masa ketika dunia teknologi percaya bahwa sensor kamera 1 inci adalah masa depan fotografi smartphone. Ukurannya yang besar menjanjikan foto lebih terang, bokeh alami, dan hasil sekelas kamera profesional. Namun, memasuki tahun 2026, kenyataan justru berbicara lain. Sensor besar itu kini perlahan menghilang dari ponsel-ponsel flagship.
Di balik perubahan arah ini, ada kisah menarik tentang desain, efisiensi, dan arah baru evolusi kamera mobile.
Dari Eksperimen Visioner ke Tren yang Redup
Ketika Xiaomi 12S Ultra dirilis pada 2022, dunia teknologi terkejut. Untuk pertama kalinya, smartphone membawa sensor 1 inci Sony IMX989, yang sebelumnya hanya digunakan di kamera kompak profesional. Kala itu, media teknologi ramai menyebutnya sebagai “game changer” — titik balik yang akan membawa kamera ponsel ke level baru.
Tak butuh waktu lama, produsen besar seperti Vivo, Oppo, dan Huawei mengikuti langkah tersebut. Sensor besar menjadi simbol prestise dan keunggulan fotografi.
Namun, tren ini ternyata memiliki umur pendek. Empat tahun berlalu, ponsel flagship justru berbalik arah. Kini, sensor besar hanya bertahan di varian “Ultra” atau model terbatas — bukan lagi fitur wajib di ponsel premium.
Teknologi Hebat yang Tak Ramah Desain
Secara teknis, sensor 1 inci memiliki banyak keunggulan. Ukurannya memungkinkan penangkapan cahaya lebih banyak, memberikan foto yang lebih tajam dan jernih, terutama dalam kondisi minim cahaya.
Hasilnya memang menakjubkan — tetapi ada harga yang harus dibayar.

Aaf Afiatna (Aura OS) adalah seorang WordPress Developer, Administrator IT, dan penggerak di balik infrastruktur berbagai portal media digital PT Arina Duta Sehati. Ia memiliki ketertarikan mendalam pada rekayasa sistem tingkat rendah, implementasi AI on-device, dan pengembangan proyek open-source seperti Neural Standby Kernel (NSK). Saat tidak sedang berurusan dengan server atau kode, ia aktif mengeksplorasi ekosistem Web3 dan berbagi wawasan melalui channel YouTube CryptoFansWorld.




Komentar