Sementara itu, negara-negara kepulauan Karibia justru menyerukan percepatan transisi dari bahan bakar fosil, mengingat mereka adalah yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim seperti badai tropis yang semakin sering dan dahsyat.
Kontras ini menciptakan ketegangan geopolitik baru: di satu sisi, kekuatan besar seperti AS dan Venezuela berjuang mempertahankan dominasi minyak, sementara di sisi lain, negara-negara kecil di Karibia meminta dunia segera beralih ke energi terbarukan.
Bagi OPEC, surat Maduro bukan hanya soal solidaritas antarprodusen, tetapi ujian nyata terhadap relevansi organisasi dalam menghadapi intervensi kekuatan global terhadap kedaulatan energi anggotanya.
Jika OPEC diam, hal itu bisa ditafsirkan sebagai legitimasi terhadap tindakan sepihak AS, namun jika merespons, organisasi ini berisiko terlibat dalam konflik geopolitik yang berpotensi memecah belah aliansi OPEC.
Bagi Venezuela, dukungan dari OPEC dan OPEC bukan sekadar simbolis, melainkan benteng terakhir melawan isolasi ekonomi dan ancaman kedaulatan yang semakin nyata di bawah tekanan Trump.
Dengan cadangan minyak terbesar di dunia yang terkunci oleh sanksi dan infrastruktur yang rusak, Venezuela kini bertaruh pada kekuatan kolektif OPEC untuk membela haknya sebagai negara produsen minyak.
Langkah Maduro memang berisiko, tetapi dalam dunia pasca-pandemi yang penuh gejolak energi, seruan kepada OPEC mungkin satu-satunya senjata diplomatik yang tersisa bagi Caracas.***




Komentar