Hingga hari ini, Tragedi Tampomas II diperingati sebagai pengingat pahit bahwa kelalaian dalam urusan keselamatan publik berujung pada kematian massal yang bisa dicegah, pelajaran yang sayangnya sering dilupakan seiring berlalunya waktu.
Monumen peringatan didirikan di Pelabuhan Tanjung Priok dan Masalembu, sementara keluarga korban terus menuntut transparansi penuh tentang kronologi resmi dan daftar nama korban yang hingga kini belum sepenuhnya lengkap.
Dalam budaya populer, Tragedi Tampomas II menjadi subjek dokumenter, buku memoar, dan lagu-lagu peringatan simbol kesedihan kolektif bangsa yang tak pernah benar-benar sembuh.
Bagi para penyintas, Tragedi Tampomas II meninggalkan trauma seumur hidup: mimpi buruk tentang api, ketakutan pada laut, dan rasa bersalah karena selamat sementara orang tercinta tenggelam dalam kegelapan.
Ironisnya, KM Tampomas II sebelumnya dianggap sebagai kapal modern dan andalan dibangun di Jepang tahun 1971, kapasitas besar, fasilitas nyaman namun justru itulah yang membuat bencana semakin parah ketika sistemnya gagal.
Tragedi Tampomas II juga membuka mata dunia internasional tentang buruknya standar keselamatan maritim di negara berkembang, mendorong IMO (International Maritime Organization) memberikan rekomendasi khusus untuk Indonesia.
Hingga kini, reruntuhan Tragedi Tampomas II masih berada di dasar laut Masalembu pada kedalaman 40 meter, menjadi kuburan bawah air yang disucikan oleh nelayan setempat—lokasi yang dihindari untuk aktivitas menyelam rekreasi.
Setiap 27 Januari, doa bersama digelar secara nasional, mengenang jiwa-jiwa yang melayang dalam Tragedi Tampomas II, sekaligus mengingatkan pemerintah dan operator transportasi: nyawa manusia tidak boleh dikorbankan demi keuntungan atau kelalaian.
Lebih dari empat dekade berlalu, Tragedi Tampomas II tetap menjadi luka terbuka dalam memori kolektif bangsa, bukan hanya sebagai bencana, tapi sebagai cermin kegagalan institusi yang harus terus diwaspadai.
Karena di balik setiap jadwal keberangkatan kapal, ada ribuan keluarga yang menunggu, dan mereka berhak pulang dengan selamat, bukan menjadi nama dalam daftar korban Tragedi Tampomas II yang dilupakan.***

