Hingga Rabu pagi, tiket Whoosh yang telah terjual tercatat mencapai sekitar 16.000 tiket. Angka ini diperkirakan akan terus bertambah seiring dengan penjualan hingga jadwal keberangkatan terakhir pada pukul 21.25 WIB. Dari sisi okupansi, penjualan tiket di Stasiun Halim pada pagi hingga siang hari telah melampaui 90 persen, sementara jadwal keberangkatan lainnya berada di kisaran 70 persen.
Tingginya okupansi ini menjadi sinyal kuat bahwa permintaan layanan Whoosh masih sangat solid, terutama pada momentum liburan besar seperti Natal dan Tahun Baru.
Rute Favorit dan Integrasi Transportasi
KCIC juga mencatat bahwa selama periode Nataru, pola perjalanan penumpang relatif konsisten. Rute favorit masih didominasi oleh Halim–Padalarang dan Halim–Tegalluar Summarecon. Penumpang yang turun di Stasiun Padalarang, pada umumnya melanjutkan perjalanan menuju pusat Kota Bandung dengan menggunakan layanan KA Feeder yang disediakan secara gratis.
Skema integrasi ini dinilai menjadi salah satu keunggulan utama layanan Whoosh. Dari sudut pandang pengguna, kemudahan berpindah moda tanpa biaya tambahan memberikan pengalaman perjalanan yang lebih praktis dan efisien. Para pengamat transportasi menilai bahwa keberhasilan integrasi ini menjadi faktor penting dalam menjaga tingkat keterisian penumpang Whoosh tetap tinggi, bahkan di luar hari kerja.
Imbauan KCIC di Tengah Lonjakan Penumpang
Di tengah tingginya volume penumpang, KCIC mengimbau masyarakat untuk merencanakan perjalanan dengan baik, terutama dalam hal pembelian tiket. Eva menekankan pentingnya melakukan pemesanan tiket secara daring untuk memastikan ketersediaan tempat duduk sesuai jadwal keberangkatan yang diinginkan.
“Tiket Whoosh dapat dibeli melalui berbagai kanal resmi, baik aplikasi Whoosh, website ticket.kcic.co.id, maupun aplikasi mitra seperti Access by KAI, Livin’ by Mandiri, BRImo, Wondr by BNI, Tiket.com, dan Traveloka,” jelasnya.




Komentar