Tujuannya bukan menjauhkan AI dari dunia pendidikan, tetapi justru mengajarkan cara memanfaatkannya. AI bisa menjadi alat belajar, asisten riset, hingga sarana melatih keterampilan baru.
Anak Muda, Jangan Cuma Jadi Penonton
Dari Konsumen ke Pencipta Teknologi
Bhima mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi AI. Anak muda perlu didorong masuk ke sektor high-tech, seperti software engineering, data science, dan pengembangan model bisnis berbasis AI.
Tanpa itu, Indonesia berisiko mengulang pola lama: menjadi pasar besar, tapi bukan pemain utama. Talenta lokal justru direbut negara lain, sementara di dalam negeri hanya menjadi konsumen.
Haruskah Kita Takut?
Ketakutan itu wajar. Namun sejarah menunjukkan bahwa setiap lompatan teknologi selalu menghilangkan sebagian pekerjaan, sekaligus menciptakan yang baru.
Internet pernah “menghilangkan” banyak profesi, tapi juga melahirkan pekerjaan yang sebelumnya tak pernah ada. AI pun akan melakukan hal serupa.
Bedanya, perubahan kali ini jauh lebih cepat.
Saatnya Bergerak, Bukan Menunggu
Pekerjaan yang berpotensi digantikan AI di Indonesia adalah sinyal, bukan vonis. Sinyal bahwa dunia kerja sedang berubah dan semua pihak perlu bersiap.
Bagi pekerja, ini saatnya belajar ulang dan menambah nilai diri. Bagi pemerintah dan dunia pendidikan, ini momentum untuk memastikan perubahan teknologi tidak meninggalkan terlalu banyak orang di belakang.




Komentar