Sejumlah penyesuaian teknis turut diterapkan panitia. Satu bantalan sasaran dipakai bergantian oleh tiga peserta, berbeda dari kelaziman dua peserta per bantalan.
Sistem alternate shoot juga diberlakukan mulai babak kedua. Format ini jarang ditemui di kompetisi domestik namun lazim dipakai di panggung dunia.
Evaluasi ini muncul usai kejuaraan dunia di Novemesto, Republik Ceko, pada 29 Juni-4 Juli 2026. Saat itu pemanah Indonesia terlihat kurang terbiasa dengan tekanan panggung alternate shoot.
“Kita memberlakukan sistem alternate shoot yang jarang dijumpai di Indonesia. Dari sinilah kita akan membiasakan diri menuju panggung alternate yang akan digunakan saat kejuaraan dunia dan Asian Para Games,” ungkap Idya.
Agenda internasional sudah menanti skuad Merah Putih. Sebelum Asian Para Games 2026, tim para panahan Indonesia akan tampil di Hyundai World Archery Para Series 2026 di Ahmedabad, India, pada 5-9 September 2026.
Poin dari seri ini krusial untuk membuka jalan menuju Paralimpiade Los Angeles 2028. Setiap laga kini punya bobot lebih dari sekadar gengsi turnamen.
Ketua penyelenggara Para-meter Archery Indonesia Open 2026, Rameez Ali, mengungkap dua misi besar di balik gelaran ini. Selain kesiapan tanding, ia ingin merajut solidaritas lintas komunitas pemanah.
“Melalui ajang ini kami ingin menambah solidaritas antara pemanah disabilitas dan non disabilitas, yang mana selama ini mungkin belum pernah bertanding bersama, terutama di kejuaraan nasional. Maka dari itu, NPC Indonesia berinisiatif mengadakan kejuaraan ini untuk upaya solidaritas,” ucap Rameez.
Peserta disabilitas pada turnamen ini datang dari berbagai daerah. Ada perwakilan Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, hingga Sumatera Barat yang ambil bagian.
Rameez berharap format ini bisa jadi agenda tahunan NPC Indonesia. “Harapan kami, event ini bisa diselenggarakan setiap tahun,” tuturnya singkat.
Harapan senada disampaikan Ken Swagumilang. Sang juara merasakan atmosfer berbeda saat bertanding melawan atlet non disabilitas yang notabene juga punya jam terbang tinggi.
“Kalau bisa tahun depan dibuat lebih besar lagi, pesertanya ditambah lagi. Pasti akan lebih meriah. Kita bisa latihan buat merasakan pressure lagi,” ungkap Ken.
Atlet tuan rumah, Asyifa Putri El Zahra, turut membagikan kesannya. Pemanah asal Kota Solo ini mengaku tegang menghadapi shoot off sejak babak kualifikasi.
“Senang bisa melihat pemanah dari NPC Indonesia, bagaimana caranya memanah, melihat cara-caranya tersendiri. Tapi saya juga merasakan tegang karena tadi sempat shoot off,” ucap Asyifa.
Dua hari kompetisi di Solo berakhir dengan catatan positif. Skuad para panahan Indonesia mengantongi modal mental sebelum tampil di dua ajang internasional beruntun tahun ini.
Sumber: https://mahidara.co/ken-swagumilang-dua-emas-para-meter-archery-indonesia-open-2026/

