Direktur Utama Jasa Marga, Rivan A. Purwantono, menyebut JMTC sebagai “tulang punggung” operasi jalan tol nasional selama periode sibuk.
“Integrasi data lalu lintas, transaksi, dan kondisi lapangan secara real-time memungkinkan kami mengambil langkah antisipatif, mulai dari rekayasa lalu lintas hingga penanganan darurat. Kecepatan respons menjadi kunci utama saat puncak Nataru,” ujarnya.
Simulasi Pengendalian Arus dan Titik Kritis Tol
Dalam kesempatan yang sama, Jasa Marga juga memaparkan skenario pengendalian arus lalu lintas di sejumlah titik strategis nasional, seperti Gerbang Tol Kalikangkung, GT Cikampek Utama (Cikatama), dan GT Prambanan.
Melalui sistem monitoring digital interaktif, petugas JMTC dapat berkomunikasi langsung dengan personel lapangan, unit patroli, ambulans, derek, hingga posko siaga. Model ini dinilai mempercepat respons insiden dan meminimalkan dampak gangguan lalu lintas terhadap pengguna jalan.
Dari sudut pandang kebijakan publik, integrasi teknologi ini menunjukkan transformasi pengelolaan jalan tol dari pendekatan reaktif menjadi berbasis data dan prediktif, sebuah standar yang mulai diterapkan di negara-negara dengan sistem transportasi maju.
Pemerintah dan Polri Perkuat Mitigasi Risiko
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa peninjauan ini merupakan bagian dari rangkaian pengamanan transportasi Nataru secara nasional.
Ia mengimbau masyarakat untuk tidak hanya bergantung pada informasi lapangan, tetapi juga aktif memantau prakiraan cuaca dan kanal resmi sebelum melakukan perjalanan jauh.
Sementara itu, Kapolri Listyo Sigit Prabowo menyoroti kesiapan sarana pendukung pengawasan, seperti penggunaan drone, sistem Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE), serta penyiapan jalur alternatif di wilayah rawan banjir atau genangan.




Komentar