Karawang, MAHIDARA – Jajat Sudrajat (23), pemuda asal Desa Pasirawi, Kecamatan Rawamerta, tiba di Grand Taruma, Karawang, Senin (15/6/2026), usai enam bulan terjebak sebagai korban penipuan online di Kamboja. Ia kembali membawa trauma dan luka fisik yang nyata.
Tergiur Lowongan Kerja di Facebook, Berangkat Tanpa Modal
Kisah ini bermula akhir tahun 2025. Himpitan ekonomi dan sulitnya mencari nafkah di kampung halaman membuat Jajat tergiur sebuah unggahan di media sosial.
Tawaran itu datang dari kenalan suaminya di Facebook. Zulfa (21), istri Jajat, mengenang detik-detik keberangkatan suaminya saat menyambut kepulangannya dengan mata berkaca-kaca.
“Awal niat berangkat, katanya diajak teman suami saya di facebook, informasinya ada lowongan pekerjaan di sebagai pelayan restoran di Kamboja dengan gaji 800 USD sebulan, dan saya sebagai istri hanya bisa mendoakan,” kenang Zulfa.
Iming-iming gaji besar dan kemudahan proses keberangkatan menjadi magnet kuat bagi keluarga itu. Jajat terbang ke Kamboja tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun.
Namun mimpi itu menguap hanya dalam waktu sebulan. Komunikasi terputus total. Kecemasan mulai menyelimuti rumah mereka di Karawang.
“Memang kita gak keluar uang, dan mudah sampai berangkat, tapi setelah satu bulan di sana tidak ada lagi kabar, jangankan mengirimi uang hape nya juga gak aktif,” tutur Zulfa lirih.
Tiba di Kamboja, Paspor dan Ponsel Langsung Disita
Realita yang dihadapi Jajat di Kamboja jauh dari kata manusiawi. Sambutan hangat rekan senegaranya di awal kedatangan hanya berupa topeng belaka.
Mereka justru menggiring Jajat ke sebuah gedung tertutup berlantai tiga, yang kemudian menjadi penjara bagi ambisinya mencari nafkah.
“Saya datang awalnya baik, terus dibawa ke tempat semacam gedung, ada 3 lantai, hp saya, paspor dan dokumen diambil, saya lalu diberi tahu apa yang harus saya kerjakan. Tentu hal itu diluar dugaan saya,” ungkap Jajat dengan nada bicara yang masih menyiratkan ketegangan.
Dipaksa Jadi Operator Scam Investasi Emas Bodong
Bukannya melayani tamu restoran seperti yang dijanjikan, mereka memaksa Jajat menjadi operator penipuan daring. Di bawah tekanan hebat, ia mengoperasikan laptop dan ponsel untuk menjerat korban lewat investasi emas bodong.
Target harian menjadi harga mati. Semua itu berlangsung di tengah pengawasan ketat para atasannya.
“Disana kita diajari bagaimana itu scammer, dikasih laptop, hape, dan kota harus mempromosikan situs trading emas, dari situ kita juga ditekan untuk mendapat target setiap harinya, misalkan 10 kali deposit, dan semua itu dilakukan dalam tekanan,” paparnya.
Gaji Hanya USD 50, Jauh dari Janji Awal
Janji gaji 800 USD ternyata hanya bualan. Jajat hanya menerima 50 USD per bulan, disekap dalam gedung gelap, pengap, dan jauh dari standar layak huni.
“Saya tinggal di gedung itu, gaji yang diterima cuma 50 USD, tidak seperti yang dijanjikan, itu pun tidak cukup buat makan selama disana. Bahkan yang paling menyakitkan saya tidak bisa menghubungi keluarga,” ujar Jajat.
Nekat Lompat dari Jendela Lantai 3 demi Bebas
Tiga bulan dalam tekanan membuat Jajat mengambil keputusan nekat. Rasa rindu pada anak dan istri mengalahkan rasa takutnya akan maut.
Pilihannya ekstrem. Ia melompat dari jendela lantai tiga gedung tempat ia disekap.
Aksi berbahaya itu justru membawanya ke tangan kepolisian Kamboja, yang kemudian menyerahkannya ke KBRI Phnom Penh.
“Saya gak kuat, gaji juga gak sesuai, saya ingin pulang, sampai akhirnya terpaksa harus loncat lewat jendela, saat itu saya ditangkap polisi dan dibawa ke KBRI,” ucapnya.
Empat Hari Terlantar di KBRI sampai Patah Tulang Terdeteksi
Perjuangan Jajat belum usai meski sudah tiba di KBRI. Selama empat hari, ia terlantar dalam kondisi fisik yang hancur, tanpa dokumen, tanpa biaya, hanya bisa terbaring menahan sakit di emperan gedung.
“Disana 4 hari sayang belum diurus, tidur juga diemperan, dan kondisi belum bisa bangun. Setelah itu baru saya dibawa ke rumah sakit, kemudian saya dirontgen, baru diketahui kalau saya mengalami patah tulang punggung, retak tulang pinggul, dan kaki kanan,” ungkap Jajat.
Dirawat 3 Bulan oleh Sesama PMI Asal Aceh
Titik terang muncul saat Jajat bertemu Zuhelmi, sesama Pekerja Migran Indonesia asal Singkil, Aceh. Zuhelmi dan istrinya merawat Jajat dengan tulus di rumah kontrakan mereka selama tiga bulan.
Perawatan itu berlangsung hingga kondisi fisik Jajat memungkinkan untuk menempuh perjalanan udara pulang ke Indonesia.
Tiba di Soekarno-Hatta, Cellica Soroti Darurat TPPO
Kolaborasi berbagai pihak — termasuk Baznas, Tim Hukum Jabar Istimewa, PPMI, dan Anggota Komisi IX DPR RI Cellica Nurrachadiana — akhirnya memuluskan proses pemulangan Jajat. Pesawat yang membawanya mendarat di Bandara Soekarno-Hatta pada Senin (16/6/2026) dini hari.
“Saya ucapkan terimakasih kepada semua pihak, termasuk Baznas, Tim Hukum Jabar Istimewa, dan PPMI. Meski sempat terkendala namun berkat kerja keras semua pihak akhirnya Jajat dapat kembali pulang,” ucap Cellica.
Mantan Bupati Karawang dua periode ini mengaku sangat terpukul melihat warganya menjadi korban TPPO. Baginya, persoalan ini sangat miris karena berakar dari niat mulia menafkahi keluarga.
“Kami tentu merasa terpukul atas peristiwa ini, dan bukan hanya Jajat saya, termasuk Zuhelmi warga Aceh yang bersedia merawat Jajat saya ucapkan terimakasih, ini persoalan yang sangat miris, karena mereka sebenarnya berangkat demi mencukupi kebutuhan keluarga imbas sulitnya lapangan pekerjaan yang mereka dapatkan di kampung halaman,” tegasnya.
Cellica mendesak Dinas Tenaga Kerja hingga tingkat kepala desa memperkuat mitigasi agar kejadian serupa tidak terulang. Ia menekankan pentingnya bimbingan berkelanjutan bagi korban yang telah pulang.
“Setelah ini, tentu mereka bukan hanya dipulangkan saja, tapi harus dibimbing, bahkan sampai dapat pekerjaan yang sesuai, supaya mereka korban TPPO ini, tidak lagi melakukan scammer di sini. Semoga hal semacam ini jadi konsen juga di daerah, bahkan sampai mereka dapat pekerjaan tetap lagi,” pungkas Cellica.




Komentar