“Satu-satunya aliran pembuangan genangan yang terjadi saat ini adalah menuju Kali Perancis. Namun karena kondisi Kali Perancis juga masih meluap, maka genangan menjadi agak sulit dialirkan,” ujar Ginanjar.
Pernyataan ini memberikan gambaran teknis yang penting bagi publik, sekaligus menegaskan bahwa persoalan genangan tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan kondisi hidrologi kawasan secara menyeluruh.
Delapan Pompa Dikerahkan, Penanganan Dilakukan Bertahap
Untuk mengurangi debit genangan, Jasa Marga mengerahkan total delapan unit mesin pompa yang beroperasi secara simultan di lokasi terdampak. Petugas gabungan dari Regional Metropolitan Jasa Marga, Representative Office 2 JMT, Jasamarga Tollroad Operator (JMTO), dan Jasamarga Tollroad Maintenance (JMTM) terus berjibaku di lapangan sejak dini hari.
Di sisi lain, koordinasi intensif juga dilakukan dengan Kepolisian guna memastikan pengaturan lalu lintas berjalan efektif dan aman bagi pengguna jalan. Langkah ini menjadi krusial untuk mencegah penumpukan kendaraan, terutama pada jam sibuk pagi hari.
Tak hanya itu, Jasa Marga juga berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung–Cisadane terkait penanganan luapan Kali Perancis. Kolaborasi lintas instansi ini dinilai sebagai langkah strategis untuk memastikan solusi yang lebih komprehensif, tidak hanya bersifat sementara.
Analisis Ahli: Infrastruktur Tol Tak Bisa Berdiri Sendiri
Dari sudut pandang ahli transportasi dan pengelolaan sumber daya air, genangan di Tol Sedyatmo menegaskan satu hal penting: infrastruktur jalan tol tidak dapat dipisahkan dari sistem drainase kawasan dan sungai di sekitarnya.




Komentar