Kemampuan ini dapat dilatih melalui refleksi rutin, journaling, diskusi dengan orang tepercaya, atau pendampingan profesional bila diperlukan. Dengan regulasi diri yang baik, stres tidak lagi menjadi beban, melainkan energi untuk bertumbuh.
Memutus Lingkaran Overthinking dengan Rencana Nyata
Dari Cemas Menjadi Aksi
Overthinking sering kali muncul karena adanya potensi yang belum tersalurkan. Rasa cemas bisa menjadi sinyal bahwa seseorang memiliki keinginan atau mimpi yang belum diwujudkan.
Chita mengibaratkan proses ini dengan ungkapan “terbentur, terbentur, terbentuk” yang dikenal sebagai kutipan dari Tan Malaka. Benturan atau tekanan justru dapat membentuk karakter dan arah hidup seseorang apabila direspons secara konstruktif.
Menurutnya, langkah konkret seperti menyusun rencana sederhana dapat membantu memutus lingkaran overthinking. Rencana tidak harus besar atau sempurna. Justru, memulai dari langkah kecil dengan sumber daya terbatas dapat menjadi titik awal perubahan.
Mulai dari Sumber Daya yang Ada
“Bikin rencana adalah salah satu langkah untuk memulai mimpi, dan mimpi itu enggak ada yang salah. Buat rencananya. Dari hal yang paling sederhana, mungkin kenal sama orang baru, masuk ke komunitas, atau apapun, yang bisa dilakukan dengan resource yang paling terbatas saat ini,” ucap Chita.
Langkah kecil seperti bergabung dengan komunitas, mengikuti pelatihan daring, atau membangun jaringan pertemanan baru dapat membuka peluang dan mengurangi rasa stagnasi.
Pendekatan ini relevan bagi remaja yang kerap merasa tertinggal karena melihat pencapaian orang lain di media sosial. Dengan fokus pada proses dan perkembangan diri sendiri, tekanan eksternal dapat dikelola secara lebih sehat.
Kesimpulan: Kesadaran, Regulasi Diri, dan Aksi Nyata
Fenomena overthinking di era media sosial tidak dapat dilepaskan dari kebiasaan self-comparison yang masif. Paparan konten yang terus-menerus memicu beban kognitif pada otak dan dapat menimbulkan perasaan tidak puas terhadap diri sendiri.
Namun, melalui strategi memberi jeda, meningkatkan kesadaran diri, memahami perbedaan eustress dan distress, serta menyusun rencana konkret, remaja dapat mengelola tekanan tersebut menjadi motivasi positif.
Pendekatan berbasis pengalaman dan keahlian yang disampaikan Lady Noor Chita menunjukkan bahwa kesehatan mental di era digital membutuhkan kombinasi literasi digital, regulasi emosi, dan tindakan nyata.




Komentar