“Kasih waktu buat diri kita sendiri untuk memproses bahwa semua yang ada di media sosial itu ya sudah, yang di media sosial saja. Belum tentu benar, belum tentu bahagia juga. Kita semua harus balik lagi ke kondisi kita saat ini, di kondisi kita sadar, kondisi realitas kita,” tutur Chita.
Dalam praktiknya, jeda dapat dilakukan dengan membatasi waktu penggunaan media sosial, menjadwalkan waktu tanpa gawai (digital detox), atau melakukan aktivitas yang mengembalikan fokus pada pengalaman fisik dan sosial di dunia nyata.
Evaluasi Kebahagiaan Tanpa Standar Orang Lain
Momen kembali ke realitas ini dinilai penting untuk mengevaluasi kebahagiaan personal. Setiap individu memiliki definisi sukses dan bahagia yang berbeda. Ada yang merasa puas dengan pencapaian besar dan eksposur publik, tetapi ada pula yang justru menemukan kebahagiaan dalam kesederhanaan dan kestabilan.
“Ketika kita membandingkan diri ke orang lain, balik ke diri dan realitas kita sendiri, apakah kita bakal senang ketika melakukan itu? Karena ada orang yang senang dapat pencapaian banyak, ada juga yang enggak senang,” jelasnya.
Pendekatan ini menekankan pentingnya kesadaran diri (self-awareness) sebagai fondasi kesehatan mental. Dengan mengenali kebutuhan dan nilai pribadi, remaja dapat mengurangi tekanan akibat standar eksternal yang belum tentu sesuai dengan dirinya.
Mengubah Stres Menjadi Motivasi Positif
Memahami Perbedaan Eustress dan Distress
Selain teknik jeda, Chita menekankan pentingnya memahami jenis stres yang dialami akibat paparan media sosial. Ia membagi stres menjadi dua kategori utama, yaitu stres baik (eustress) dan stres tidak baik (distress).
Eustress bersifat memotivasi dan mendorong seseorang untuk berkembang. Sebaliknya, distress bersifat melumpuhkan dan membuat individu merasa tidak berdaya.
Perbedaan keduanya terletak pada sudut pandang seseorang saat menghadapi perasaan tertinggal. Jika individu memiliki regulasi diri yang baik, ia dapat mengubah rasa tertinggal menjadi dorongan untuk bertindak.
“Ketika kamu menemukan kondisi yang, ‘kok kayaknya hidup saya jauh banget’, dan kamu punya regulasi diri, stres baik ini akan memotivasi kamu untuk melakukan sesuatu,” ujarnya.
Regulasi Diri sebagai Kunci
Regulasi diri mencakup kemampuan mengelola emosi, mengatur respons terhadap tekanan, serta menentukan langkah konkret. Dalam konteks media sosial, regulasi diri membantu seseorang menyaring informasi dan tidak langsung mempercayai atau menginternalisasi standar yang ditampilkan orang lain.




Komentar