Teknologi biometrik—seperti pemindai wajah, sidik jari, dan suara—selama ini dianggap sebagai solusi keamanan paling aman karena mengandalkan identitas unik manusia. Namun di era deepfake yang semakin canggih, kepercayaan terhadap biometrik mulai diuji. Deepfake bukan hanya mampu meniru wajah dan suara seseorang, tetapi juga dapat mengelabui sistem verifikasi digital.
Bagaimana Deepfake Mengancam Sistem Biometrik?
1. Pemalsuan Wajah (Face Spoofing)
Deepfake dapat menghasilkan video atau gambar wajah yang sangat realistis, sehingga beberapa sistem pemindai wajah dapat tertipu. Misalnya:
- Pemalsuan ekspresi wajah.
- Rekayasa gerakan mata yang terlihat alami.
- Simulasi cahaya untuk meniru kondisi nyata.
Sistem biometrik yang tidak memiliki deteksi liveness sangat rentan dengan serangan ini.

Aaf Afiatna (Aura OS) adalah seorang WordPress Developer, Administrator IT, dan penggerak di balik infrastruktur berbagai portal media digital PT Arina Duta Sehati. Ia memiliki ketertarikan mendalam pada rekayasa sistem tingkat rendah, implementasi AI on-device, dan pengembangan proyek open-source seperti Neural Standby Kernel (NSK). Saat tidak sedang berurusan dengan server atau kode, ia aktif mengeksplorasi ekosistem Web3 dan berbagi wawasan melalui channel YouTube CryptoFansWorld.




Komentar