Selain itu, digitalisasi transaksi juga memperkuat aspek pengawasan dan mitigasi risiko, terutama terkait pencucian uang dan pendanaan terorisme, yang menjadi perhatian utama regulator global.
India dan Asia dalam Strategi Integrasi Keuangan Regional
Rencana perluasan QRIS ke India dan negara Asia lainnya menegaskan orientasi regional dalam kebijakan BI. Asia dinilai sebagai kawasan strategis dengan pertumbuhan ekonomi digital yang pesat serta tingkat adopsi pembayaran nontunai yang tinggi.
Bagi BI, kerja sama ini bukan hanya soal ekspansi teknologi, melainkan juga penyelarasan kebijakan antarbank sentral. Harmonisasi standar, mekanisme kliring, dan pengawasan menjadi tantangan utama yang harus dikelola agar integrasi tidak menimbulkan risiko sistemik.
Pertumbuhan QRIS sebagai Justifikasi Kebijakan Ekspansi
Lonjakan volume transaksi QRIS sebesar 139,99 persen (yoy) pada kuartal IV 2025 menjadi argumen kuat bagi BI untuk melanjutkan ekspansi internasional. Total transaksi pembayaran digital nasional yang mencapai 14,26 miliar transaksi menunjukkan bahwa ekosistem digital Indonesia telah mencapai skala yang cukup matang.
Digitalisasi dan Stabilitas Sistem Keuangan
Pertumbuhan transaksi mobile banking dan internet banking yang masing-masing mencapai 12,10 persen dan 15,10 persen (yoy) memperkuat tesis bahwa digitalisasi tidak mengganggu stabilitas, justru memperluas basis sistem keuangan formal. Dalam kerangka kebijakan, hal ini memberi ruang bagi BI untuk terus mendorong inovasi tanpa mengorbankan prinsip kehati-hatian.
QRIS sebagai Instrumen Soft Power Finansial
Dalam perspektif yang lebih luas, QRIS lintas negara juga dapat dibaca sebagai bentuk soft power finansial Indonesia. Dengan sistem pembayaran yang diadopsi lintas negara, Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi global, tetapi juga penyedia standar yang diakui.




Komentar