Teknologi

TNI AL Bidik Infrastruktur Dasar Laut, Strategi Perang Modern Lumpuhkan Internet dan Energi

TNI AL, infrastruktur dasar laut (sea-bed), dan sabotase internet-energi menjadi fokus utama strategi pertahanan masa depan Indonesia.
TNI AL, infrastruktur dasar laut (sea-bed), dan sabotase internet-energi menjadi fokus utama strategi pertahanan masa depan Indonesia.

TNI AL Bidik Infrastruktur Dasar Laut, Strategi Perang Modern Lumpuhkan Internet dan Energi

MAHIDARA – TNI AL, infrastruktur dasar laut (sea-bed), dan sabotase internet-energi menjadi fokus utama strategi pertahanan masa depan Indonesia. Angkatan Laut tidak lagi hanya mempersiapkan skenario adu kekuatan di permukaan laut, melainkan mengarahkan perhatian pada “nadi” komunikasi dan energi yang tersembunyi di kedalaman samudra. Infrastruktur kabel fiber optic dan jaringan energi bawah laut kini dipandang sebagai Center of Gravity atau pusat gravitasi kekuatan yang dapat menentukan stabilitas bahkan kelangsungan hidup suatu negara.

Pernyataan ini disampaikan oleh Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Laut (Asops KSAL) Laksamana Muda TNI Yayan Sofiyan dalam diskusi pertahanan yang digelar di Jakarta, Rabu (25/2). Dalam forum tersebut, ia menegaskan bahwa peperangan modern telah memasuki fase baru: perang sabotase dasar laut yang dapat melumpuhkan komunikasi, ekonomi, hingga pasokan energi tanpa perlu pengerahan pasukan besar.

Mengapa Infrastruktur Dasar Laut Jadi Target Strategis?

Sea-Bed sebagai Center of Gravity

Dalam doktrin militer modern, Center of Gravity merujuk pada titik kekuatan utama yang jika dilumpuhkan akan melemahkan lawan secara signifikan. Yayan Sofiyan menjelaskan bahwa infrastruktur dasar laut kini menjadi titik krusial tersebut.

Kabel fiber optic bawah laut menopang sebagian besar lalu lintas data global, termasuk komunikasi pemerintahan, transaksi ekonomi digital, hingga sistem pertahanan. Selain itu, jaringan pipa dan instalasi energi bawah laut menopang distribusi energi lintas wilayah dan negara.

“Bayangkan jika fiber optic dan infrastruktur komunikasi di laut diputus. Sebuah negara bisa dibungkam, internetnya lumpuh, ekonominya terganggu,” tegas Yayan.

Polsek Cikalongwetan Gelar Baksos Religi Jumat Berkah Ramadhan, Bagikan Takjil kepada Warga dan Pengguna Jalan

Menurutnya, gangguan terhadap kabel komunikasi dapat menyebabkan akses internet suatu wilayah turun drastis hingga lebih dari 80 persen. Dampaknya bukan hanya pada komunikasi personal, tetapi juga sistem keuangan, perdagangan digital, hingga layanan publik berbasis daring.

Dampak Sabotase: Internet Lumpuh, Energi Drop 90 Persen

Gangguan Komunikasi dan Ekonomi Digital

Dalam skenario yang dipaparkan, sabotase terhadap kabel bawah laut dapat menghentikan konektivitas nasional dalam waktu singkat. Ketergantungan masyarakat dan industri terhadap internet menjadikan kabel fiber optic sebagai infrastruktur vital.

Jika jaringan tersebut rusak atau diledakkan, transaksi perbankan, sistem logistik, komunikasi militer, dan aktivitas ekonomi digital bisa terganggu. Penurunan kapasitas konektivitas hingga 80 persen bukan sekadar angka teknis, melainkan potensi gangguan sistemik terhadap stabilitas negara.

Ancaman pada Jalur Energi

Tak hanya komunikasi, TNI AL juga menyoroti kerentanan jalur energi bawah laut. Instalasi pipa dan jaringan distribusi energi yang berada di dasar laut sangat vital bagi keberlangsungan industri dan kebutuhan rumah tangga.

Bitcoin di Era Ledakan AI: Ancaman Bagi Kripto atau Awal Kolaborasi Teknologi Baru?

Laman: 1 2 3

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *