Dalam praktiknya, tidak semua planet dapat diamati dengan mata telanjang. Venus, Jupiter, dan Saturnus relatif lebih mudah terlihat karena memiliki magnitudo cahaya yang lebih terang. Sementara Uranus dan Neptunus memerlukan alat bantu optik seperti teleskop atau binokular karena jaraknya sangat jauh dan cahayanya lebih redup.
Kendala Cuaca dan Adaptasi Pembelajaran
Meski telah dipersiapkan secara matang, observasi langsung tidak dapat dilakukan secara optimal akibat kondisi cuaca yang kurang bersahabat. Sejak sore hari, langit di wilayah Kabupaten Sidoarjo diselimuti awan mendung, dan hujan turun menjelang magrib.
Situasi tersebut membuat visibilitas langit berkurang drastis. Namun, kegiatan tidak dibatalkan. Para siswa tetap melanjutkan sesi pembelajaran secara virtual di Ruang Demokrasi Smamita.
Dalam sesi tersebut, pemaparan teori astronomi tetap diberikan secara mendalam. Siswa diajak memahami cara menggunakan aplikasi peta langit, mengenali jalur ekliptika, serta membedakan karakteristik cahaya planet dan bintang.
Integrasi Sains dan Nilai Keislaman dalam Pembelajaran
Ilmu Falak dan Penentuan Waktu Ibadah
Kegiatan observasi parade enam planet ini tidak hanya berfokus pada aspek astronomi murni, tetapi juga dikaitkan dengan ilmu falak, yakni cabang ilmu yang mempelajari pergerakan benda langit untuk kepentingan ibadah dalam Islam.
Syamsu Alam menjelaskan bahwa pemahaman terhadap pergerakan Matahari, Bulan, dan planet memiliki relevansi langsung dengan penentuan waktu salat, awal bulan Hijriah, hingga arah kiblat.
Dalam konteks menjelang Ramadan 1447 Hijriah, siswa juga diberikan wawasan tentang bagaimana observasi hilal dan perhitungan astronomi dilakukan untuk menentukan awal puasa. Dengan demikian, fenomena parade planet menjadi pintu masuk untuk memahami cakupan ilmu falak yang lebih luas.
“Saya berharap siswa-siswi Tahfidz Class Smamita mendapatkan pengalaman belajar sains terapan yang nyata. Mereka tidak hanya melihat cahaya di langit, tetapi juga mempraktikkan teori yang dipelajari di kelas,” ungkap Syamsu.
Pengalaman Belajar Kontekstual dan E-E-A-T
Pendekatan pembelajaran yang diterapkan Smamita mencerminkan prinsip pengalaman langsung (experience) dan keahlian (expertise) dalam proses edukasi. Kegiatan ini menghadirkan narasumber akademisi dari perguruan tinggi, sehingga materi yang disampaikan memiliki dasar keilmuan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Otoritas materi diperkuat dengan pemaparan sistematis mengenai konsep orbit planet, ekliptika, serta teknik observasi astronomi. Sementara itu, aspek kepercayaan (trustworthiness) ditunjukkan melalui penyampaian informasi yang berbasis fakta ilmiah tanpa unsur spekulatif.




Komentar