Kondisi ini memunculkan rasa kecewa di kalangan RT/RW. Sebab, honor yang mereka terima selama ini dianggap tidak sebanding dengan beban tugas di lapangan, mulai dari pelayanan administrasi warga hingga menjaga kondusivitas lingkungan.
Ada Rasa Sungkan untuk Menolak
Lebih jauh, aparatur lingkungan tersebut mengaku tidak memiliki ruang yang cukup untuk menyampaikan keberatan secara terbuka. Relasi struktural antara kepala desa dan RT/RW disebut menjadi faktor utama munculnya rasa sungkan dan kekhawatiran.
“Kami sebenarnya keberatan, tapi merasa tidak punya kuasa untuk menolak. Takut berdampak pada hubungan kerja,” ujarnya.
Pengakuan ini mencerminkan adanya persoalan relasi kekuasaan di tingkat desa yang dinilai perlu dikelola secara lebih sehat dan profesional, agar tidak menimbulkan ketimpangan dan rasa tertekan di kalangan aparatur.
Sorotan pada Gaya Kepemimpinan Kepala Desa

Kantor Desa Cikampek Timur
Tak hanya soal honor, sumber yang sama juga menyoroti gaya kepemimpinan Kepala Desa Cikampek Timur yang dinilai kurang komunikatif. Bahkan, dalam beberapa kesempatan, ia menyebut adanya penyampaian yang terkesan menekan, khususnya saat membicarakan dukungan dalam kontestasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) mendatang.
“Permintaan dukungan Pilkades itu disampaikan dengan nada yang membuat kami merasa terbebani. Seolah ada tekanan, bukan sekadar ajakan,” tuturnya.




Komentar