Strategi Mengelola Overthinking di Era Media Sosial: Pakar Kesehatan Mental Soroti Self-Comparison Remaja
MAHIDARA – Cara mengelola overthinking di era media sosial menjadi perhatian serius dalam diskusi kesehatan mental remaja, seiring maraknya kebiasaan membandingkan diri (self-comparison) akibat paparan konten digital yang masif. Fenomena ini dinilai berpotensi memicu kecemasan, perasaan tertinggal, hingga ketakutan untuk melangkah maju apabila tidak dikelola dengan kesadaran dan regulasi diri yang tepat.
Hal tersebut disampaikan advokat kesehatan mental sekaligus CEO dan Co-Founder Santosha, Lady Noor Chita, dalam dialog bersama Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat RI di Fakultas Ilmu Kedokteran Universitas Indonesia, Jumat (27/2/2026). Dalam forum tersebut, ia menegaskan bahwa perilaku membandingkan diri adalah hal yang manusiawi, tetapi dapat berubah menjadi “racun psikologis” ketika individu terlalu fokus pada pencapaian orang lain dibandingkan kondisi dirinya sendiri.
Mengapa Media Sosial Memicu Overthinking?
Self-Comparison yang Terjadi Secara Masif
Media sosial menghadirkan arus informasi dan visual yang nyaris tanpa henti. Remaja dapat melihat pencapaian akademik, karier, gaya hidup, hingga relasi sosial orang lain hanya dalam hitungan detik melalui layar ponsel. Paparan ini mendorong terjadinya self-comparison secara terus-menerus.
Menurut Chita, membandingkan diri bukanlah perilaku yang sepenuhnya salah. Dalam psikologi, membandingkan diri merupakan bagian dari proses evaluasi sosial yang alami. Namun, masalah muncul ketika seseorang terlalu terfokus pada kehidupan orang lain dan melupakan realitas serta kebutuhan dirinya sendiri.
“Sebenarnya normal untuk membandingkan karena itu adalah perilaku manusia. Tapi yang kemudian menjadi salah adalah ketika kita terlalu fokus ke orang lain dibandingkan ke diri kita sendiri,” ujarnya.
Perasaan tertinggal sering muncul saat melihat standar hidup orang lain yang tampak ideal. Foto liburan, pencapaian karier, tubuh ideal, atau relasi yang harmonis dapat menciptakan ilusi bahwa orang lain selalu lebih bahagia dan sukses. Padahal, konten di media sosial umumnya telah melalui proses kurasi—dipilih dan disaring—sehingga hanya menampilkan sisi terbaik.
Realitas yang Terkurasi dan Beban Kognitif Otak
Paparan konten digital dalam durasi panjang memberikan beban kerja tambahan pada otak. Saat seseorang melakukan scrolling selama berjam-jam, otak secara bawah sadar terus memproses setiap informasi yang muncul, meskipun hanya beberapa detik.
Chita menjelaskan bahwa otak akan mengenali konten yang dianggap menarik atau relevan secara emosional. Ironisnya, konten yang memicu rasa tidak puas terhadap diri sendiri sering kali justru membuat seseorang berhenti lebih lama dan terjebak dalam pola pikir negatif.
Dari sudut pandang neurosains, kondisi ini dapat meningkatkan kecenderungan overthinking, yaitu memikirkan sesuatu secara berlebihan tanpa menghasilkan solusi konkret. Alih-alih menjadi refleksi produktif, overthinking justru memperpanjang kecemasan.
Pentingnya Memberi Jeda pada Otak
Jeda sebagai Transisi dari Dunia Maya ke Realitas
Salah satu strategi yang disarankan untuk mengatasi overthinking adalah memberikan jeda secara sengaja. Jeda ini bukan sekadar berhenti menatap layar, tetapi menjadi masa transisi untuk mengembalikan kesadaran dari dunia maya ke realitas kehidupan.




Komentar