Lewati ke konten

mahidara.co

Berita penting

Yusuf Ronodipuro, Penyiar yang Nyaris Dipenggal Usai Siarkan Proklamasi

4 menit baca
Ukuran teks 100%

Yusuf Ronodipuro, Penyiar yang Nyaris Dipenggal Usai Siarkan Proklamasi

Malam 17 Agustus 1945 menyimpan kisah lain di balik pembacaan proklamasi. Seorang penyiar muda nyaris kehilangan kepala demi memastikan kabar kemerdekaan Indonesia sampai ke telinga dunia.

Terkurung Tanpa Kabar dari Luar

Sejak 14 Agustus 1945, prajurit Kempetai mengepung ketat gedung Radio Hoso Kyoku di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta. Mereka hanya mengizinkan karyawan radio itu masuk, sementara siapa pun dilarang keluar. Kempetai juga menghentikan total siaran ke luar negeri, memutus jalur yang sebenarnya bisa mengabarkan peristiwa besar apa pun ke dunia internasional.

Penyiar sekaligus reporter Muhammad Yusuf Ronodipuro ikut terkurung bersama seluruh staf selama dua hari penuh. Ia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di luar tembok stasiun. Sementara itu, pada pukul 10 pagi 17 Agustus 1945, Soekarno membacakan teks proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta, tanpa Yusuf dan rekan-rekannya menyadarinya sedikit pun.

Pesan Rahasia dari Adam Malik

Petang harinya, seorang pegawai kantor berita Domei bernama Syahruddin menyusup masuk lewat tembok belakang gedung Hoso Kyoku. Ia membawa secarik kertas berisi pesan dari Adam Malik. Langkah itu sendiri berisiko tinggi, sebab siapa pun yang tertangkap mendekati gedung yang dijaga Kempetai bisa berhadapan langsung dengan hukuman.

Pesan itu mengabarkan bahwa Soekarno dan Mohammad Hatta telah membacakan naskah proklamasi kemerdekaan pada pagi harinya. Bagi Yusuf, kabar itu menjadi satu-satunya informasi valid yang menembus isolasi dua hari mereka, sekaligus sinyal bahwa ia harus segera menyiarkannya, apa pun risikonya.

Menyambungkan Kabel ke Studio yang Terlupakan

Yusuf bergerak cepat bersama rekannya, Bachtiar Loebis, dan teknisi radio Joe Seragih. Kempetai menjaga ketat hampir semua studio siaran di gedung itu, membuat opsi mereka nyaris tertutup sama sekali.

Yusuf lantas teringat satu ruangan yang luput dari pengawasan: studio siaran mancanegara yang sudah tidak aktif. Sayangnya, ruangan itu tidak tersambung ke pemancar. Bersama Joe Seragih, ia mengalihkan susunan kabel hingga studio tersebut terhubung ke pemancar internasional, sebuah pekerjaan teknis yang harus rampung diam-diam di tengah penjagaan ketat.

Kabar Kemerdekaan Mengudara ke Dunia

Tepat pukul 19.00 WIB, Yusuf Ronodipuro yang saat itu berusia 26 tahun membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke seluruh dunia. Sekitar 20 menit berselang, ia membacakan naskah yang sama dalam bahasa Inggris.

Ia menyiarkan versi bahasa Inggris itu agar radio-radio internasional seperti BBC London, Radio Amerika, dan Singapura bisa memahami isinya. Radio-radio tersebut kemudian meneruskan kabar kemerdekaan Indonesia ke pendengar di berbagai belahan dunia, sesuatu yang tidak mungkin terjadi tanpa siaran ganda dari studio kecil yang nyaris terlupakan itu.

Sumber: https://mahidara.co/yusuf-ronodipuro-penyiar-proklamasi-kemerdekaan-dunia/

· · · ·

Berita terkait

Rekomendasi berita

Berita lainnya

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *