Lewati ke konten

mahidara.co

Berita penting

PMI Asal Karawang Loncat dari Lantai 3 di Kamboja, Karena Gaji Cuma USD 50 Sebulan

5 menit baca
Ukuran teks 100%

Gaji Hanya USD 50, Jauh dari Janji Awal

Janji gaji 800 USD ternyata hanya bualan. Jajat hanya menerima 50 USD per bulan, disekap dalam gedung gelap, pengap, dan jauh dari standar layak huni.

“Saya tinggal di gedung itu, gaji yang diterima cuma 50 USD, tidak seperti yang dijanjikan, itu pun tidak cukup buat makan selama disana. Bahkan yang paling menyakitkan saya tidak bisa menghubungi keluarga,” ujar Jajat.

Nekat Lompat dari Jendela Lantai 3 demi Bebas

Tiga bulan dalam tekanan membuat Jajat mengambil keputusan nekat. Rasa rindu pada anak dan istri mengalahkan rasa takutnya akan maut.

Pilihannya ekstrem. Ia melompat dari jendela lantai tiga gedung tempat ia disekap.

Aksi berbahaya itu justru membawanya ke tangan kepolisian Kamboja, yang kemudian menyerahkannya ke KBRI Phnom Penh.

“Saya gak kuat, gaji juga gak sesuai, saya ingin pulang, sampai akhirnya terpaksa harus loncat lewat jendela, saat itu saya ditangkap polisi dan dibawa ke KBRI,” ucapnya.

Empat Hari Terlantar di KBRI sampai Patah Tulang Terdeteksi

Perjuangan Jajat belum usai meski sudah tiba di KBRI. Selama empat hari, ia terlantar dalam kondisi fisik yang hancur, tanpa dokumen, tanpa biaya, hanya bisa terbaring menahan sakit di emperan gedung.

“Disana 4 hari sayang belum diurus, tidur juga diemperan, dan kondisi belum bisa bangun. Setelah itu baru saya dibawa ke rumah sakit, kemudian saya dirontgen, baru diketahui kalau saya mengalami patah tulang punggung, retak tulang pinggul, dan kaki kanan,” ungkap Jajat.

Dirawat 3 Bulan oleh Sesama PMI Asal Aceh

Titik terang muncul saat Jajat bertemu Zuhelmi, sesama Pekerja Migran Indonesia asal Singkil, Aceh. Zuhelmi dan istrinya merawat Jajat dengan tulus di rumah kontrakan mereka selama tiga bulan.

Perawatan itu berlangsung hingga kondisi fisik Jajat memungkinkan untuk menempuh perjalanan udara pulang ke Indonesia.

Tiba di Soekarno-Hatta, Cellica Soroti Darurat TPPO

Kolaborasi berbagai pihak — termasuk Baznas, Tim Hukum Jabar Istimewa, PPMI, dan Anggota Komisi IX DPR RI Cellica Nurrachadiana — akhirnya memuluskan proses pemulangan Jajat. Pesawat yang membawanya mendarat di Bandara Soekarno-Hatta pada Senin (16/6/2026) dini hari.

“Saya ucapkan terimakasih kepada semua pihak, termasuk Baznas, Tim Hukum Jabar Istimewa, dan PPMI. Meski sempat terkendala namun berkat kerja keras semua pihak akhirnya Jajat dapat kembali pulang,” ucap Cellica.

Mantan Bupati Karawang dua periode ini mengaku sangat terpukul melihat warganya menjadi korban TPPO. Baginya, persoalan ini sangat miris karena berakar dari niat mulia menafkahi keluarga.

“Kami tentu merasa terpukul atas peristiwa ini, dan bukan hanya Jajat saya, termasuk Zuhelmi warga Aceh yang bersedia merawat Jajat saya ucapkan terimakasih, ini persoalan yang sangat miris, karena mereka sebenarnya berangkat demi mencukupi kebutuhan keluarga imbas sulitnya lapangan pekerjaan yang mereka dapatkan di kampung halaman,” tegasnya.

Cellica mendesak Dinas Tenaga Kerja hingga tingkat kepala desa memperkuat mitigasi agar kejadian serupa tidak terulang. Ia menekankan pentingnya bimbingan berkelanjutan bagi korban yang telah pulang.

“Setelah ini, tentu mereka bukan hanya dipulangkan saja, tapi harus dibimbing, bahkan sampai dapat pekerjaan yang sesuai, supaya mereka korban TPPO ini, tidak lagi melakukan scammer di sini. Semoga hal semacam ini jadi konsen juga di daerah, bahkan sampai mereka dapat pekerjaan tetap lagi,” pungkas Cellica.

Sumber: https://mahidara.co/jajat-sudrajat-pmi-karawang-korban-scam-kamboja-lompat-lantai-3/

· · · · ·

Berita terkait

Rekomendasi berita

Berita lainnya

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *