Kekeringan di Karawang Selatan Sejak Juni 2026
Kekeringan di Karawang selatan bukan kejadian baru pada Oktober ini. Menurut BPBD Karawang, kekeringan mulai terjadi sejak Juni 2026, lalu wilayah terdampak terus meluas selama musim kemarau. Pada 30 Juli 2026, BPBD mencatat wilayah terdampak tersebar di empat kecamatan, yakni Tegalwaru, Ciampel, Pangkalan, dan Telukjambe Barat, dengan Tegalwaru sebagai yang paling parah.
Di Kecamatan Pangkalan, data BPBD pada tanggal yang sama menunjukkan 656 KK atau 1.728 jiwa di Desa Kertasari, Mulangsari, dan Jatilaksana terdampak krisis air bersih. Memasuki bulan kelima kemarau pada pertengahan September, pemetaan BPBD menempatkan Desa Jatilaksana di Pangkalan sebagai salah satu desa dengan dampak terparah dari total 15 desa terdampak. BPBD juga menggandeng Baznas Cabang Karawang untuk membantu pasokan air bagi warga.
Pada 20 Juli 2026, BPBD mencatat 7.704 warga atau 2.585 KK di enam desa bergantung pada pasokan air bersih dari pemerintah. Sampai hari itu, BPBD mencatat total 152.000 liter air bersih sudah mengalir ke wilayah terdampak. Sebagai gambaran skala, 27.000 liter pada Sabtu (10/10/2026) setara sekitar 18 persen dari angka kumulatif tersebut, meski cakupan kedua data berbeda.
Prakiraan BMKG: Kapan Kemarau Berakhir?
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sudah mengingatkan sejak Juni 2026 bahwa kemarau tahun ini lebih kering dari kondisi normal. Durasinya berkisar tiga hingga tujuh bulan, tergantung wilayah. Untuk Jawa Barat, puncak kemarau umumnya jatuh pada Agustus dan di sebagian wilayah berlanjut hingga September.
Menurut Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena, musim kemarau 2026 berakhir sekitar pertengahan Oktober. Hujan di Pulau Jawa mulai datang pada November, tetapi intensitasnya masih di bawah normal. BMKG juga memprakirakan sebagian Jawa memasuki musim hujan pada November dan sebagian besar Jawa pada Desember 2026.
BMKG memprediksi El Nino bertahan hingga awal 2027 dan mencapai puncak pada Desember 2026. Namun, lembaga itu menilai dampaknya terhadap datangnya musim hujan tidak signifikan. BMKG juga mengingatkan bahwa musim kemarau dan masa peralihan bukan berarti tidak ada hujan sama sekali, sehingga warga perlu memantau prakiraan dan peringatan dini lewat kanal resmi BMKG. Selama hujan belum turun merata, kegiatan seperti distribusi di Kertasari berpotensi masih dibutuhkan di desa-desa terdampak.
Sumber: https://mahidara.co/distribusi-air-bersih-karawang-desa-kertasari-pangkalan/