Yayan menyebut sabotase terhadap jaringan energi dapat menurunkan intake atau pasokan energi suatu negara hingga lebih dari 90 persen. Penurunan drastis tersebut berpotensi memicu krisis listrik, gangguan industri, hingga ketidakstabilan sosial.
“Inilah yang harus kita pikirkan dalam penyelenggaraan pertempuran ke depan,” ujarnya.
Bagaimana Strategi TNI AL Menghadapi Ancaman Ini?
Multi-Domain Operation Jadi Kunci
TNI AL memproyeksikan pendekatan Multi-Domain Operation sebagai strategi utama. Konsep ini mengintegrasikan kekuatan darat, laut, udara, siber, dan ruang angkasa dalam satu sistem pertahanan terpadu.
Pendekatan ini memungkinkan respons cepat dan presisi terhadap ancaman, termasuk pada infrastruktur dasar laut. Dengan integrasi lintas domain, Indonesia diharapkan memiliki daya tangkal tinggi terhadap ancaman sabotase.
Menurut Yayan, penggabungan lima domain tersebut bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan eksistensial dalam menghadapi dinamika perang modern.
Melumpuhkan Mental Lawan Tanpa Pengerahan Besar
Strategi sabotase atau pengamanan sea-bed juga dipandang sebagai cara efektif untuk membungkam niat agresi tanpa harus melibatkan konflik terbuka skala besar. Dengan menguasai titik vital, sebuah negara dapat menekan lawan agar mengubah strategi atau niat permusuhan.
Pendekatan ini dinilai lebih efisien dan presisi dibanding perang konvensional yang mengandalkan pengerahan kapal perang atau pasukan dalam jumlah besar.
Ancaman Perang Hibrida dan Zona Abu-Abu
Kerentanan Critical Underwater Infrastructure (CUI)
Kewaspadaan terhadap ancaman ini tidak hanya muncul di Indonesia. Secara global, perang hibrida (hybrid warfare) semakin banyak memanfaatkan celah di zona abu-abu (gray-zone), termasuk sabotase infrastruktur bawah laut.
TNI AL bersama mitra internasional telah membahas kerentanan kabel internet dan pipa migas bawah laut yang dianggap sebagai target empuk. Infrastruktur ini sulit dipantau secara langsung karena berada di kedalaman dan wilayah luas.
Gangguan terhadap sea-bed dapat berdampak lintas batas negara, terutama pada ekonomi digital dan stabilitas kawasan.
Forum Internasional dan Kerja Sama Global
Isu perlindungan Critical Underwater Infrastructure juga disuarakan dalam forum internasional seperti Navy Tech 2026 di Swedia. Dalam forum tersebut, pentingnya pengamanan “nadi bawah laut” menjadi perhatian bersama negara-negara maritim.
Indonesia sendiri memiliki tantangan geografis besar. Wilayah perairan luas dan selat strategis seperti Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Lombok menjadi jalur vital komunikasi dan energi internasional. Kerentanan di wilayah tersebut dapat berdampak tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi stabilitas regional.
Siapa yang Bertanggung Jawab dan Kapan Implementasinya?
TNI AL sebagai garda terdepan pertahanan maritim Indonesia bertanggung jawab dalam pengamanan infrastruktur laut, termasuk dasar laut. Penekanan terhadap strategi ini disampaikan pada 25 Februari dalam forum diskusi pertahanan, menandakan bahwa isu tersebut telah masuk dalam perencanaan strategis jangka menengah dan panjang.
Aaf Afiatna (Aura OS) adalah seorang WordPress Developer, Administrator IT, dan penggerak di balik infrastruktur berbagai portal media digital PT Arina Duta Sehati. Ia memiliki ketertarikan mendalam pada rekayasa sistem tingkat rendah, implementasi AI on-device, dan pengembangan proyek open-source seperti Neural Standby Kernel (NSK). Saat tidak sedang berurusan dengan server atau kode, ia aktif mengeksplorasi ekosistem Web3 dan berbagi wawasan melalui channel YouTube CryptoFansWorld.
Sumber: https://mahidara.co/tni-al-bidik-infrastruktur-dasar-laut-strategi-lumpuhkan/