Lewati ke konten

mahidara.co

Berita penting

Pekerjaan Terancam AI di Indonesia, Haruskah Kita Takut atau Bersiap?

4 menit baca
Ukuran teks 100%

Pekerjaan Terancam AI di Indonesia, Haruskah Kita Takut atau Bersiap?

Pekerjaan yang berpotensi digantikan AI di Indonesia kini bukan lagi sekadar wacana futuristik. Di media sosial, diskusi soal admin, content creator, hingga digital marketer yang mulai “tergeser mesin” semakin ramai. Banyak pekerja muda merasa waswas, terutama mereka yang sehari-hari bergelut dengan tugas digital yang repetitif.

Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) memang berkembang pesat. Aplikasi seperti ChatGPT, Gemini, dan berbagai tools otomatisasi kini bisa diakses siapa saja. Pekerjaan yang dulu membutuhkan waktu berjam-jam, kini bisa diselesaikan dalam hitungan menit. Di sinilah muncul pertanyaan besar: apakah manusia masih dibutuhkan?

Dari Media Sosial ke Dunia Nyata

Curhat Warganet yang Mewakili Banyak Orang

Salah satu unggahan di platform X yang viral menyebut bahwa pekerjaan administratif dan tugas virtual yang berulang akan menjadi korban pertama otomatisasi. Pesan tersebut terasa dekat dengan realitas banyak pekerja remote dan admin digital.

Bukan soal malas atau rajin, tapi soal dampak. Di era AI, yang dicari bukan lagi siapa yang bekerja paling lama, melainkan siapa yang memberi nilai tambah. Pekerjaan sederhana yang bisa dipetakan polanya memang paling mudah diajarkan ke mesin.

Fenomena ini membuat banyak orang mulai mempertanyakan masa depan karier mereka.

Kata Ekonom: Ini Pekerjaan yang Paling Rentan

Bukan Sekadar Admin

Ekonom Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menjelaskan bahwa pekerjaan yang mudah digantikan AI memiliki ciri khas tertentu. Pekerjaan yang berulang, prosesnya panjang, dan bisa disederhanakan menjadi algoritma adalah target utama.

Tak hanya itu, Bhima menyebut bahwa pekerjaan kreatif di sektor digital juga mulai terdampak. Content creator, copywriter, scriptwriter, hingga jurnalis digital kini menghadapi tekanan efisiensi.

“Pekerjaan semi skill worker itu sangat rentan digantikan AI,” ujar Bhima.

Digital marketing dan riset pasar juga tak luput dari ancaman, karena banyak analisis data kini bisa dilakukan secara otomatis dengan tingkat akurasi tinggi.

AI Bukan Monster, Tapi Cermin

Masalahnya Bukan Teknologi, Tapi Kesiapan

Meski terdengar mengkhawatirkan, Bhima menegaskan bahwa AI bukan musuh. Teknologi ini hanya mempercepat perubahan yang sebenarnya sudah lama terjadi sejak era internet.

Masalahnya, banyak pekerja belum sempat beradaptasi. Ketika AI datang, sebagian orang masih bertahan pada pola kerja lama yang kini tak lagi relevan.

Di sisi lain, mereka yang mampu menggunakan AI sebagai alat bantu justru bisa meningkatkan produktivitas dan daya saing.

Aaf Afiatna (Aura OS) adalah seorang WordPress Developer, Administrator IT, dan penggerak di balik infrastruktur berbagai portal media digital PT Arina Duta Sehati. Ia memiliki ketertarikan mendalam pada rekayasa sistem tingkat rendah, implementasi AI on-device, dan pengembangan proyek open-source seperti Neural Standby Kernel (NSK). Saat tidak sedang berurusan dengan server atau kode, ia aktif mengeksplorasi ekosistem Web3 dan berbagi wawasan melalui channel YouTube CryptoFansWorld.

Sumber: https://mahidara.co/pekerjaan-terancam-ai-di-indonesia-cerita-nyata-dan-cara-bertahan-di-era-digital/

· · ·

Berita terkait

Rekomendasi berita

Berita lainnya

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *