Lewati ke konten

mahidara.co

Berita penting

Dari Karawang untuk Dunia: Endang Sodikin Serukan Pancasila Jadi Aksi Nyata

4 menit baca
Ukuran teks 100%

Karawang, MAHIDARA – Ketua DPRD Kabupaten Karawang H. Endang Sodikin, S.Pd.I., S.H., M.H., menilai peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 harus dimaknai jauh lebih dalam dari sekadar upacara rutin. Baginya, Pancasila adalah sistem nilai yang hidup — bukan dokumen sejarah yang hanya tampak saat bendera dikibarkan setahun sekali.

Bukan Ritual, Tapi Falsafah yang Wajib Dihidupi

Peringatan Hari Lahir Pancasila ke-81 pada 2026 ini membawa tema nasional “Pancasila Pemersatu Bangsa, Pondasi Perdamaian Dunia”. Menurut politisi yang akrab disapa Kang HES ini, tema tersebut bukan sekadar tagline kampanye pemerintah — ia adalah seruan refleksi mendalam bagi seluruh lapisan masyarakat.

Endang menegaskan bahwa esensi dari peringatan ini adalah mendorong tiap warga negara untuk memegang teguh dan mengejawantahkan nilai-nilai Pancasila dalam tindakan sehari-hari. Tanpa aktualisasi nyata, Pancasila hanya akan menjadi warisan yang terpajang di dinding, bukan landasan yang menggerakkan perilaku bangsa.

“Kembali pada 1 Juni 2026 ini, kita ingin masyarakat mengingat lagi nilai-nilai Pancasila. Pancasila adalah bagian dari falsafah yang harus kita pegang erat. Bukan hanya setiap tahun diingat sebagai seremonial belaka, tetapi wajib diejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari. Pancasila adalah way of life, pandangan hidup kita,” ujar Endang saat diwawancarai, Senin (1/6/2026).

Frasa way of life yang dipilih Endang bukan tanpa pretensi. Istilah itu secara tegas memposisikan Pancasila bukan sebagai kewajiban formal yang usai begitu upacara selesai, melainkan sebagai kompas moral yang seharusnya hadir saat seseorang memilih cara bertetangga, berbicara, berbisnis, atau mengambil keputusan di ruang publik.

Kebhinekaan Bukan Beban, Melainkan Modal Bangsa

Endang Sodikin menyoroti satu aspek yang kerap luput dari diskusi Pancasila: kemampuannya menjadikan keberagaman sebagai kekuatan, bukan sumber ketegangan. Indonesia adalah negara dengan ratusan suku, ribuan dialek lokal, dan beragam keyakinan yang hidup berdampingan dalam satu bingkai kebangsaan.

Kompleksitas itu, jika tidak dikelola dengan fondasi yang tepat, berpotensi menjadi benih disintegrasi. Pancasila hadir sebagai sistem nilai yang mengakui perbedaan sekaligus mentransformasikannya menjadi energi kolektif untuk maju bersama.

“Kita harus ingat adanya kebinekaan. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk, terdiri dari berbagai macam ras, suku, dan agama. Nilai-nilai inilah yang harus terus kita jaga dan lestarikan agar tetap menjadi pondasi kokoh untuk mempersatu bangsa,” tuturnya.

Pernyataan itu terasa relevan di tengah lanskap sosial yang kerap diwarnai gesekan identitas. Kang HES mengingatkan bahwa perbedaan bukan variabel yang harus diseragamkan — ia adalah warisan historis yang justru menjadi keunggulan komparatif Indonesia jika dikelola lewat nilai-nilai Pancasila.

Sumber: https://mahidara.co/endang-sodikin-dprd-karawang-pancasila-way-of-life-bukan-seremonial-2026/

· · · ·

Berita terkait

Rekomendasi berita

Berita lainnya

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *