Karawang – Di tengah era infrastruktur modern yang cepat usang, Bendung Walahar di Karawang justru membuktikan keunggulan desain kolonial yang tetap mengalirkan kehidupan selama satu abad penuh, sebuah keajaiban teknik yang masih beroperasi optimal di tahun 2025.
Dibangun pada 1920 dan diresmikan pada 1925, Bendung Walahar di Karawang melintang sepanjang 50 meter di Sungai Citarum dengan misi strategis: menaikkan muka air hingga delapan meter agar irigasi menjangkau Karawang utara yang gersang.
Direktur Utama Perum Jasa Tirta II Imam Santoso menuturkan, hingga kini, Bendung Walahar di Karawang menjadi jantung Sistem Irigasi Tarum Utara, mengalirkan air ke ratusan ribu hektare sawah melalui saluran induk yang menjadi nadi pertanian daerah lumbung padi nasional.
Arsitektur klasik, katup besi berat, dan mesin penggerak berusia 100 tahun masih berfungsi dengan presisi, bukti nyata bahwa Bendung Walahar di Karawang bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan infrastruktur hidup yang dirawat dengan dedikasi luar biasa oleh Perum Jasa Tirta II (PJT II).
“Bendung Walahar bukan sekadar bangunan tua; ini adalah penjaga aliran kehidupan,” ujar Imam, saat diwawancara mahidara.co, Senin (1/12/2025).
Setiap tahun, Bendung Walahar di Karawang mengairi sekitar 174.276 hektare lahan pertanian, menjadikan Karawang sebagai lumbung padi terbesar kedua di Jawa Barat dan salah satu penopang utama ketahanan pangan nasional.
“Pada 2024 saja, nilai ekonomi hasil panen yang bergantung pada irigasi Bendung Walahar di Karawang mencapai Rp7,6 triliun, angka yang menunjukkan betapa vitalnya peran bendung ini bagi kesejahteraan petani dan stabilitas pangan Indonesia,” kata dia.
Tak hanya untuk pertanian, Bendung Walahar di Karawang kini juga menjadi sumber air baku utama bagi seluruh PDAM di Kabupaten Karawang, memastikan jutaan warga memiliki akses air bersih setiap hari.
Meski usianya nyaris seabad, Bendung Walahar di Karawang justru semakin relevan di tengah krisis air global dan perubahan iklim yang mengancam ketahanan sumber daya air di seluruh dunia.
“Keandalannya tak lepas dari komitmen PJT II dalam menerapkan standar operasional tinggi, komunikasi rutin dengan kelompok tani, serta filosofi pengelolaan berbasis amanah publik,” ucap Imam.
Sejalan dengan slogan “Air untuk Menghidupi Negeri”, PJT II meyakini bahwa keberhasilan sejati terlihat dari senyum petani saat panen dan ketersediaan air bersih di rumah-rumah warga Karawang.
Bendung Walahar di Karawang telah melewati berbagai era dari masa kolonial, kemerdekaan, hingga revolusi digital namun tetap tegak sebagai tulang punggung irigasi yang tak tergantikan.